DetikNews
Senin 20 Oktober 2014, 08:08 WIB

Begini Perjalanan Politik Jokowi, Si 'Capres Kerempeng'

- detikNews
Begini Perjalanan Politik Jokowi, Si Capres Kerempeng
Jakarta - Sepuluh tahun lalu, Joko Widodo mungkin tak terpikir akan menjadi seorang Presiden RI seperti sekarang. Bahkan saat itu pria yang akrab disapa Jokowi itu dikenal secara nasional pun tidak. Tapi karir politik, pria kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 itu sangat cemerlang dan berlangsung cepat.

Jokowi memantapkan hati bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada sekitar tahun 2004. Kala itu, alumni Fakultas Kehutanan UGM itu menduduki posisi salah satu pengurus DPC PDIP Solo.

Pada tahun 2004 itu pula Jokowi mengenal FX Hadi Rudyatmo yang sudah lebih dulu masuk DPC PDIP Solo. Kedekatan Jokowi dan FX Hadi berlanjut saat keduanya dipercaya PDIP dan PKB maju sebagai calon Walikota dan Wakil Walikota Solo tahun 2005.

Berkat kampanye yang gigih, Jokowi dan FX Hadi berhasil memenangkan Pilkada Solo dengan meraih suara sebesar 36,62 persen. Tak signifikan memang, tapi itu cukup membanggakan sebagai pencapaian pertama Jokoei dalam politik.

Mulailah Jokowi sebagai walikota melakukan pembenahan untuk Kota Solo. Mulai dari infrastruktur, penataan Pedagang Kaki Lima (PKL), pengembangan ekonomi, pelayanan kesehatan dan pendidikan, hingga 'rebranding' Kota Solo sebagai 'The Spirit of Java'.

Kinerja Jokowi dan FX Hadi membuat masyarakat Solo puas dan berbangga. Hal itu terbukti saat Jokowi dan FX Hadi kembali mencalonkan diri dalam Pilkada Kota Solo periode kedua 2010-2015. Keduanya mengantongi suara yang sangat fantastis, 90,09 persen suara! Nyaris tak ada dalam sejarah pemilu Indonesia, kandidat mendapat angka hampir 100 persen.

Cerita kesuksesan Jokowi di Kota Solo dalam periode kedua, kemudian terdengar oleh para jurnalis media-media nasional. Bukan saja hanya karena kinerja, tapi lebih karena kepribadiannya. Terutama soal kesederhanaan, kejujuran dan kesantunan Jokowi dalam berpolitik.

Di struktur partai, Jokowi kala itu sudah menduduki posisi sebagai wakil ketua salah satu bidang di DPD PDIP Jawa Tengah. Memang, nama Jokowi tak banyak dilekatkan dengan sebutan 'politisi', tapi PDIP jua yang membesarkan namanya.

Saat sosok Jokowi yang sederhana itu mendapat perhatian luas media nasional, pria asli Jawa berperawakan kurus ini juga mencuri hati tokoh nasional di antaranya Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto. Keduanya, meminta Jokowi untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012, atau saat Jokowi masih menyisakan sekitar 3 tahun lagi masa jabatan di Solo.

Jokowi menerima tantangan maju dalam Pilgub DKI pada tahun 2012 bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Tak mudah bagi pria berperawakan kerempeng yang 'diimpor' dari Solo menang di DKI, karena ada 6 pasangan calon yang berkompetisi kala itu termasuk Fauzi Bowo yang diusung 7 partai.

Jokowi bahkan dikecam karena tak menyelesaikan masa jabatannya di Solo seperti yang sudah diduganya. Tapi dia optimistis bahwa dukungan masyarakat bisa memaklumi dan membawanya jadi orang nomor satu di ibukota. Terlebih, sebagai 'media darling' membuat Jokowi berada sedikit di atas angin.

Akhirnya, berkat kekuatan politik PDIP dan Gerindra sebagai pengusung, melalui jargon 'The power of kotak-kotak', Jokowi berhasil membuat mayoritas warga DKI mempercayainya sebagai Gubernur DKI periode 2012-2017. Selamat! Anak dari Sujiatmi Notomiharjo itu kini duduk sebagai 'penguasa' ibukota.

Namun belum genap setahun menjabat, Jokowi terusik dengan ekspose survei-survei elektabilitas capres jelang Pilpres 2014 dan pemberitaan dirinya sebagai gubernur yang makin intensif. Sejak dua tahun lalu, tak ada tokoh yang bisa menyaingi elektabilitasnya di lantai bursa capres. Maka sekali lagi, insting politik seorang 'tukang kayu' ini diuji.

Survei capres itu menghembuskan pesan, 'mutiara' memang tak cukup hanya dikeluarkan dari dalam cangkang dasar laut, lalu diangkat ke permukaan. Publik ingin Jokowi bisa memberi manfaat lebih luas. Saat itulah secara perlahan namun pasti hampir seluruh survei menyebut Jokowi layak menjadi Presiden RI.

Maka tahun 2014, Jokowi resmi menjadi calon presiden bersama Jusuf Kalla. Lawan kuat Jokowi di Pilpres adalah tokoh yang dulu memintanya menjadi Gubernur DKI, Prabowo Subianto. Jokowi dan Jusuf Kalla berhasil mengalahkan Prabowo-Hatta dalam sekali pertandingan Pilpres, dengan meraih 53,15 persen suara. Pertandingan ini menjadi 'ring Pilpres' paling bersejarah di Indonesia karena hanya mengadu dua pasangan kandidat.

Jokowi, pria yang oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sempat disebut calon presiden 'kerempeng' itu pukul 10.00 Senin (20/10/2014) pagi ini akan dilantik dan mengucapkan sumpah sebagai Presiden ketujuh.


(iqb/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed