Ini Rekam Jejak Survei Puskaptis yang Menangkan Prabowo-Hatta

- detikNews
Kamis, 10 Jul 2014 08:11 WIB
Jakarta -

Tiga lembaga survei menyebut Prabowo-Hatta unggul versi quick count Pilpres 2014. Salah satu lembaga survei tersebut adalah Pusat Kajian dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) yang merilis hasil 52,06% untuk Prabowo-Hatta.

Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi) berencana untuk mengaudit lembaga survei yang merilis hasil berbeda. Sementara itu Ketua Relawan Jokowi-JK Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyebut Puskaptis pernah bermasalah.

"Iya (Puskaptis) itu kan pernah bermasalah waktu dulu itu. Seharusnya informasi seperti ini dibuka ke publik sehingga publik tahu mana yang kredibel dan tidak," ungkap Ganjar saat berbincang, Kamis (10/7/2014).

Vivanews, media yang merujuk hasil survei Puskaptis pada Pilpres kali ini pun pernah melansir bahwa hasil survei Puskaptis sering meleset pada tahun 2009. Mereka menampilkan komentar dari politisi PAN, Bima Arya.

"Selain itu perlu dikritisi metodologi Puskaptis meliputi validitas sampel, sebaran demografis responden, profil responden yang tak pernah dijelaskan secara gamblang ke publik," ujar Bima, yang pernah aktif di lembaga konsultan politik Charta Politika ini.

Pada tahun 2013 Puskaptis pernah merilis quick count di Sumatera Selatan yang menyebut pasangan cagub-cawagub Sarimuda-Nelly unggul. Akibat dari hasil tersebut, tim sukses pasangan nomor urut 3 Herman Deru-Maphilinda Boer melakukan protes keras dengan mendatangi kantor Puskaptis.

Polisi pun langsung mengamankan Direktur Puskaptis Husin Yazid agar tak menimbulkan konflik lebih lanjut. Ketika itu Husin berkilah bahwa hasil quick count belum 100% sehingga hasilnya demikian.

"Saya diancam beberapa oknum. Ketika itu saya minta bantuan keamanan. Polisi langsung datang mengamankan saya dari amukan warga," ucap Husin saat tampil di Metro TV pagi ini.

Setahun sebelumnya Puskaptis menyatakan bahwa Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) akan mengalahkan Joko Widodo-Basuki T Purnama (Jokowi-Ahok) pada Pilgub DKI 2012. Berdasarkan survei itu, elektabilitas Foke-Nara mencapai 47,22 persen. Posisi ke-2 pasangan Jokowi-Ahok dengan elektabilitas 15,16 peren. Disusul Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini 10,28 persen, Faisal Basri-Biem Benyamin 3,17 persen, Alex Noerdin-Nono Sampono 2,31 persen, dan Hendarji Supanjdi-A Riza Patria 1,55 persen. Padahal hasilnya, ternyata Jokowi-Ahok menang telak.

Pada tahun yang sama, Puskaptis sudah menyebut bahwa Hatta Rajasa adalah figur calon wakil Presiden paling ideal. Padahal saat itu masih dua tahun sebelum pelaksanaan Pilpres tahun ini.

Puskaptis juga pernah merilis survei mengenai Pilpres 2009. Survei itu menghasilkan kesimpulan bahwa Megawati Soekarnoputri adalah figur terpopuler dan Prabowo Subianto sosok paling disukai. Anehnya, nama Jusuf Kalla (JK) tak masuk dalam survei.

"Tokoh yang diambil adalah tokoh yang sudah mempunyai afiliasi terhadap salah satu partai. JK tidak masuk karena tidak punya afiliasi terhadap partai," kata Husin.

Prabowo Subianto sebelumnya mengklaim kemenangan pada quick count Pilpres 2014. Dia merujuk pada hasil tiga lembaga survei, termasuk Puskaptis. Terkait hasil yang berbeda dengan kubunya, dia menyebut ada kemungkinan survei bayaran dan rekayasa. Padahal Direktur RRI dan Kompas, dua lembaga survei yang independen, sudah menegaskan netral. Pada Pileg lalu, survei mereka pun paling mendekati real count.

(bpn/ndr)