7 Terdakwa Teroris yang Hendak Racun Polisi Diadili di PN Jakpus

- detikNews
Selasa, 20 Des 2011 18:44 WIB
Jakarta - Tujuh orang yang berencana meracuni polisi diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus). Mereka berencana menyebarkan racun sianida di berbagai kantor polisi dengan cara membawa air racun yang diolah dari buah jarak yang dimasukkan dalam botol air kemasan.

Ketujuh terdakwa tersebut yaitu Santhanam, Martoyo, Jumarto, Umar, Paimin, Budi Supriadi dan Ali Miftah ditangkap polisi di area Polsek Kemayoran Jakpus pada 10 Juni 2011. Target aksi mereka yaitu kantor Polsek, Polres, dan Polda di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Tengah

"Mereka melakukan permufakatan jahat, percobaan atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme. racun berasal dari buah jarak yang diproses menjadi cairan yang berbahaya. Kantor Polsek Kemayoran yang sering didatangi anggota polisi menjadi sasaran percobaannya," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fatikhuri saat membacakan dakwaan di PN Jakpus, Jalan Gajah Mada, Jakarta, Selasa, (20/12/2011).

Namun sebelum sampai di warung tenda makanan tersebut, terdakwa Santhanam dan Paimin terlebih dahulu ditangkap oleh anggota polisi. Menurut hasil Puslabfor Polri, racun dari buah jarak itu mengandung senyawa ricin yang berbahaya jika terhirup, disuntikan atau tertelan.

"Karena sampai saat ini belum ada antitoksin untuk ricun ini," tambah Jaksa di depan majelis hakim yang diketuai Ahmad Rivai.

Saat ditangkap, ditemukan sejumlah senjata api model pulpen, 8 senjata api rakitan dan 5 butir peluru. Selain itu ditemukan pula pelarut toluena, metanol, benzena, etil benzena, trimetil benzena, p-xilena, phospire (PH3), arsenic. Bahan kimia tersebut tergolong pelarut kimia dan bahan kimia beracun.

"Belakangan diketahui, Santhanam adalah orang yang memiliki gagasan untuk membuat racun dari biji jarak, sementara Paimin adalah pembuatnya. Lain lagi dengan Umar, Wartoyo, Jumarto, Budi Supriyadi dan Ali Miftah, mereka dianggap telah membantu mempersiapkan, melakukan survei atau membiarkan tindak pidana terorisme," beber JPU lainnya Lila Agustina.

Niat jahat ini bermula pada April 2011, saat Santhanam memimpin pengajian yang diikuti oleh Jumarto, Umar, Wartoyo dan Budi Supriadi di halaman masjid Al Ikhlas Kelurahan Kebun Kosong, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. Awalnya Santhanam hanya mengajarkan baca tulis Al Quran, lama-kelamaan mengarah kepada jihad dengan acara mempersiapkan racun tersebut menyimpan senjata api.

"Ketujuhnya terancam pidana mulai dari 15 tahun hingga pidana mati. Namun, untuk terdakwa diancam dengan pidana paling berat yaitu pidana mati untuk Santhanam dan Ali Mufthi berdasarkan Pasal 9 Perppu No 1/2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme," tuntas Lila.


(asp/anw)