8.700 Pernikahan Dini di Jateng Selama 2021

Ragil Ajiyanto - detikNews
Rabu, 29 Des 2021 18:16 WIB
Wedding in the mountains Mangup in Crimea
Ilustrasi pernikahan (Foto: Thinkstock)
Boyolali -

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Tengah, Musta'im Ahmad, mengatakan angka perkawinan yang mendapatkan dispensasi nikah atau pernikahan di Jateng dalam satu tahun ini ada 8.700 kasus, dari total 290.000 pernikahan. Musta'im mengungkap salah satu alasan pernikahan dini tersebut.

"Dari tahun ini 290.000 pernikahan, itu tiga persen yang dispensasi. Dia menikah di bawah umur yang dipersyaratkan undang-undang," ungkap Musta'im ditemui usai launching pendampingan, konseling dan pemeriksaan kesehatan dalam 3 bulan pranikah sebagai upaya pencegahan stunting dari hulu kepada calon pengantin, di kantor Bupati Boyolali, Rabu (29/12/2021).

Menurutnya, dispensasi nikah diajukan ke Pengadilan Agama, dan setelah ada keputusan maka Kementerian Agama yang melaksanakan putusan tersebut. Menurut Musta'im, alasan permohonan dispensasi nikah pada umumnya untuk menghindari perzinaan.

"Lebih banyak kalau kita baca normatifnya selalu kalimat yang muncul adalah untuk menghindari perzinaan. Alasan mengapa mengajukan nikah di usia awal," jelasnya.

Di kesempatan yang sama, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengungkapkan dari hasil penelitian yang dilakukannya, angka pernikahan dini di Indonesia di angka 20 per 1.000. Setiap 1.000 pernikahan, ada 20 yang menikah di usia muda.

"Sebetulnya gini ya, BKKBN itu tahun 2021 ini mengukur, mengolah data mengunjungi 68 juta keluarga. Dari dari itu BKKBN mengukur siapa yang umur 15 sampai 19 tahun itu sudah hamil dan melahirkan. Jawabannya 20 per 1.000. Angka Indonesia loh, saben (tiap) 1.000 perempuan, kalau ditanya yang 20 itu sudah melahirkan, dan hamil di usia 15 sampai 20 tahun," kata Hasto.

Dia menegaskan pernikahan usia dini harus terus ditekan. Angka 20 per 1.000 itu harus terus diturunkan, dan ditargetkan bisa di bawah 10. Caranya dengan pendewasaan usia pernikahan.

"Program pendewasaan usia pernikahan, yang selalu kita kampanye, sosialisasi, lewat genre, pendamping keluarga. Ini kan semua keluarga nanti didampingi. Ada tiga pendamping keluarga, bidan, kader KB dan PKK," imbuhnya.

Menurut Hasto, pernikahan dini bisa berpengaruh kepada kasus stunting.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...