Klithih Bikin Resah, Sultan Cerita Dulu Anak Nakal Dididik di Telaga Putri

Heri Susanto - detikNews
Rabu, 29 Des 2021 15:12 WIB
Gubernur DIY Sri Sultan HB X di kantor BPK Perwakilan Yogyakarta, Rabu (29/12/2021).
Gubernur DIY Sri Sultan HB X di kantor BPK Perwakilan Yogyakarta, Rabu (29/12/2021). (Foto: Heri Susanto/detikcom)
Yogyakarta -

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan kejahatan jalanan klithih harus segera ditangani. Sultan bercerita Pemda DIY dulu pernah memiliki cara khusus menangani anak nakal.

"Dulu pada waktu saya kecil kalau di Alun-Alun Kidul sama Kaliurang di Telaga Putri ada tempat pendidikan anak nakal, di mana kalau orang tuanya kewalahan itu diserahkan kepada provinsi untuk dibina dididik, namanya Pra Yuwono," kata Sultan diwawancarai wartawan di Kantor BPK RI Perwakilan DIY, Rabu (29/12/2021).

Sultan juga mengungkap ada dialog untuk membentuk lembaga semacam atau barangkali membangkitkan lagi Pra Yuwono. Sebab menurutnya penanganannya ke depannya membutuhkan strategi karena anak-anak di bawah umur dinilai masih masa depan.

"Mestinya klithih itu ditangani ya. Mungkin memang Kondisi real berbeda, anak-anak beda, pendidikan, pengawasan dulu sama sekarang beda. Itu yang perlu kita perhatikan. Kita bisa bicara lebih jauh, kita bisa masuk ke ruang-ruang mereka," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sultan juga menyinggung soal mahalnya biaya konsultasi keluarga terkait kenakalan remaja.

"Saya punya pengalaman kami bentuk pada waktu satu lembaga seperti konsultan untuk ngatasi kenakalan anak," kata Sultan.

Namun, lanjut Sultan, untuk konsultasi kenakalan remaja harus melibatkan keluarga anak tersebut. Mulai dari orang tua hingga adik dan kakaknya.

"Jadi semua itu harus kita kumpulkan untuk memberikan pemahaman, kita dialog. Ya memang tidak mudah, kalau seperti ini harus satu keluarga, berarti 10 orang (pelaku) harus (menangani) 10 kepala keluarga," jelasnya.

Karena melibatkan seluruh keluarga pelaku, maka biaya konsultasi juga mahal. Sultan menyebut penanganan anak yang melibatkan satu keluarga biayanya mencapai Rp 3 juta-Rp 4 juta.

"Tapi memerlukan biayanya, pada waktu itu begini ini minta Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Menangani satu keluarga itu bagi saya terlalu mahal, kita cari yang lain, yang lebih memungkinkan," kata Sultan.

(sip/mbr)