Ada Petilasan di Pinggir Jalan Yogya-Solo Klaten, Begini Sejarahnya

Achmad Syauqi - detikNews
Minggu, 05 Des 2021 12:26 WIB
Kompleks petilasan di tepi jalan Yogya-Solo, Dusun Penggung, Kecamatan Ceper, Klaten, Minggu (5/12/2021).
Kompleks petilasan di tepi jalan Yogya-Solo, Dusun Penggung, Kecamatan Ceper, Klaten, Minggu (5/12/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom
Klaten -

Kompleks bangunan menyerupai makam berada persis di pinggir Jalan Yogya-Solo, Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah. Bangunan itu disebut warga setempat sebagai petilasan. Seperti apa sejarahnya?

"Itu hanya petilasan," kata perawat bangunan tersebut, Sihono (65) kepada detikcom, Minggu (5/12/2021).

Pantauan detikcom, kompleks bangunan itu berada di persimpangan jalan, Dusun Penggung, Desa Jambu Kulon. Dikelilingi tembok setinggi sekitar 1,5 meter, kompleks itu terlihat jelas oleh pengguna jalan.

Tembok kompleks makam berbentuk segitiga. Di dalamnya ada satu rumah kuburan atau cungkup berukuran sekitar 2x3 meter dan teras. Di dalam cungkup berpintu kayu, terdapat satu kubur sederhana berlantai keramik.

Terdapat batu nisan terbuat dari batu putih yang berbentuk setengah kelopak bunga tanpa nama. Namun ternyata tidak ada jenazah yang dikubur di lokasi itu.

Sihono menjelaskan ada cerita turun-temurun dari kakek moyang leluhurnya.

"Menurut cerita, Kanjeng Ratu PB IV saat wafat hendak dibawa ke makam Imogiri (Bantul), (rombongan) beristirahat di situ," ujarnya.

"Karena jenazah rombongan beristirahat di lokasi. Maka kompleks ini disebut kendelan dalem (pemberhentian raja)," lanjutnya.

Kompleks petilasan di tepi jalan Yogya-Solo, Dusun Penggung, Kecamatan Ceper, Klaten, Minggu (5/12/2021).Kompleks petilasan di tepi jalan Yogya-Solo, Dusun Penggung, Kecamatan Ceper, Klaten, Minggu (5/12/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom

Untuk menghormati istri raja, sambung Sihono, ada tradisi bagi pengantin baru di dusunnya. Setiap pengantin warga Dusun Penggung mubeng atau mengitari kompleks petilasan tersebut.

"Jadi pengantin baru orang sini atau yang dapat orang sini mengitari kompleks setelah resmi menikah. Sampai sekarang masih dilakukan," terang Sihono.

Tidak hanya untuk tradisi bagi pengantin, petilasan itu sering didatangi orang dari sejumlah daerah di Jawa Tengah atau lainnya.

"Ada peziarah dari Malang, Banten, Bandung dan lainnya. Beberapa tahun lalu saat ada yang wafat di Keraton Solo, di sini ditaburi bunga dan dijaga polisi," ungkapnya.

Selama ini petilasan itu tetap terjaga. Meskipun ada proyek jalan, kompleks tersebut tidak tersentuh.

"Kalau ada proyek jalan tidak berani menerjang. Padahal ya cuma satu petilasan, saya yang bersihkan setiap hari," imbuh Sihono.

Warga setempat, Nunung (36), mengatakan tradisi mengitari kompleks petilasan itu masih dilakukan warga. Tapi ada juga yang tidak melakukannya.

"Masih banyak yang melakukan (mubeng) bagi pengantin baru. Tapi ya ada yang tidak, tergantung kepercayaan masing-masing karena ini cuma tradisi," ungkap Nunung kepada detikcom.

Tradisi itu biasanya dilakukan setelah prosesi ijab kabul selesai. Nunung mengaku saat menikah juga melakukan hal yang sama.

"Saya dulu juga muter di situ. Setelah itu tidak apa-apa, tidak muter juga tidak apa-apa. Dan harus (mubeng) itu kan bagi yang percaya saja," imbuh Nunung.

Simak juga 'Kisah Makam Ngujang dan Kera Jelmaan Gaib':

[Gambas:Video 20detik]



(rih/rih)