Nasib Guru Honorer Gunungkidul, Ada yang Digaji Rp 150 Ribu Per Bulan

Pradito Rida Pertana - detikNews
Kamis, 25 Nov 2021 16:58 WIB
Teacher hand is holding pen for checking student homework assignments on desk in school. Unfinished paperwork stacked in archive with color paper and binder paper clips. Education and business concept
Ilustrasi guru (Foto: Getty Images/iStockphoto/NuPenDekDee)
Gunungkidul -

Forum Guru Honorer Sekolah Negeri (FGHSN) Kabupaten Gunungkidul menyebut masih banyak guru honorer bergaji ratusan ribu rupiah setiap bulannya. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul mengaku refocusing anggaran memengaruhi gaji guru honorer.

Ketua FGHSN Gunungkidul Aris Wijayanto menjelaskan saat ini ada sekitar 1.000 guru honorer di Gunungkidul. Dari jumlah tersebut, sekitar 900 orang berstatus guru pengganti.

"Sebagian kecil yang belum berstatus sebagai guru pengganti upahnya masih sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 500 ribu per bulan," kata Aris saat dihubungi wartawan, Kamis (25/11/2021).

Menurutnya, status guru pengganti merupakan pengangkatan guru honorer sebagai tenaga pendidik. Namun, untuk menjadi guru pengganti ada sejumlah syarat yang wajib dipenuhi seperti kesesuaian kompetensi sampai ketersediaan formasi dari pemerintah.

"Untuk yang berstatus guru pengganti di Gunungkidul ada sekitar 900 guru honorer dengan upah masih Rp 800 ribu per bulan. Karena itu upah bagi guru honorer masih di bawah standar upah yang layak," ujarnya.

Kendati demikian, Aris tetap mengapresiasi perhatian yang sudah diberikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul terhadap guru honorer selama tiga tahun terakhir. Salah satunya dengan menerapkan sistem pengangkatan status sebagai guru pengganti.

"Karena kebijakan itu (status guru pengganti bagi guru honorer) setidaknya sudah membantu meningkatkan kesejahteraan guru honorer," ujarnya.

Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikpora Gunungkidul Ali Ridlo mengaku pihaknya selalu berupaya memperjuangkan hak para guru honorer ini. Salah satunya dengan menyampaikan aspirasi ke tingkat pusat, hingga berupaya agar para guru honorer juga bisa mengikuti sertifikasi.

"Tapi masih ada berbagai kendala, khususnya dari sisi anggaran. Apalagi di pandemi ini banyak refocusing anggaran, jadi kami tidak bisa sepenuhnya mewujudkan seluruh keinginan para guru honorer," kata Ali.

Simak juga Video: Hari Guru Nasional, Nadiem Makarim: Guru Nyalakan Obor Perubahan

[Gambas:Video 20detik]



(rih/sip)