ADVERTISEMENT

Kemunculan Listrik, Lampu Setan dan Budaya Wedangan di Solo

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Rabu, 24 Nov 2021 14:55 WIB
5 Angkringan Legendaris di Solo, Ada yang Langganan Presiden Jokowi
Ilustrasi angkringan. (Foto: detikcom)
Solo -

Listrik yang menjangkau Kota Solo di masa lalu membawa dampak besar di segala lini. Termasuk pula munculnya aktivitas di malam hari, seperti pasar malam, hiburan Sriwedari, dan tentunya wedangan atau angkringan yang sudah menjadi sebuah budaya di Solo.

Masuknya listrik di Solo tidak terlepas dari pendirian perusahaan listrik pertama di wilayah Keraton Kasunanan Surakarta, yaitu Solosche Electriciteit Maatschappij (SEM). Perusahaan itu berdiri pada 1901.

"Pendirian SEM ini didukung pemerintah lokal. Bahkan Raja Keraton Surakarta saat itu, Pakubuwono X menghibahkan tanah di Purwosari sebagai kantor SEM yang kini dipakai kantor PLN," kata sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Susanto, saat dihubungi detikcom, Rabu (24/11/2021).

Perusahaan ini mampu berkembang baik, antara lain karena jarak pabrik-pabrik dan perkebunan di Solo saling berdekatan. Ditambah lagi karena SEM tidak punya saingan perusahaan listrik.

"Sebenarnya Mangkunegara VII pernah mendirikan PLTA di Tawangmangu karena merasa pasokan listrik masih kurang. Tapi ada kontestasi politik di sini, pemerintah kolonial mencabut izin operasinya," ujar dia.

Dalam buku Jejak Listrik di Tanah Raja (2021) karya Eko Sulistyo, ditulis bahwa sumber listrik di Solo saat itu berasal dari Tuntang, Kabupaten Semarang, yang dibangun Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits-Maatschappij (ANIEM) dan beroperasi 1913. Perusahaan ini mengembangkan PLTA di Jelok, Tuntang pada 1938.

"Saya masih teringat bagaimana nenek dan kakek saya, serta orang tua kita dulu, terutama yang tinggal di Jawa Tengah menyebut hal yang terkait listrik dengan sebutan ANIEM, seperti gardu aniem, cagak (tiang) aniem, kabel aniem atau lampu aniem," tulis Eko yang merupakan anggota Dewan Komisaris PT PLN.

Tentu listrik saat itu banyak melayani kerajaan, keluarga bangsawan dan para saudagar. Namun listrik pun digunakan untuk fasilitas umum, seperti penerangan jalan, pasar hingga tempat-tempat hiburan.

Dalam buku tersebut banyak digambarkan situasi kota dengan masuknya listrik. Misalnya Pasar Gede dengan tiang-tiang listrik di sekitarnya, pernikahan bangsawan di istana yang penuh dengan lampu hias, gapura Pura Mangkunegaran yang dihiasi ornamen lampu berbentuk pasukan legiun.

Pada awalnya, masyarakat kecil masih heran dengan adanya lampu tersebut. Bahkan mereka menyebutnya sebagai 'lampu setan'.

"Maklum, dalam wilayah pegunungan di sekitar Surakarta yang belum tersentuh listrik, masyarakatnya masih heran dengan lampu yang bisa menyala sendiri, tidak perlu diisi minyak patra dan gas. Mereka seakan-akan memahami lampu yang menyala itu adalah ulah setan atau makhluk gaib," kata Eko.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT