Konon, 2 Pohon Raksasa Ini Tempat Pangeran Diponegoro Tambatkan Kuda

Achmad Syauqi - detikNews
Sabtu, 23 Okt 2021 20:02 WIB
Pohon asam Jawa raksasa di Pasar Klepu, Desa Klepu, Kecamatan Ceper, Klaten, Sabtu (23/10/2021).
Pohon raksasa di Pasar Klepu, Desa Klepu, Kecamatan Ceper, Klaten, Sabtu (23/10/2021). Achmad Syauqi/detikcom
Klaten -

Dua pohon raksasa berdiri di tengah Pasar Klepu, Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah. Dua pohon yang usianya disebut lebih dari 200 tahun itu konon tempat Pangeran Diponegoro menambatkan kuda.

"Pohon ini sudah ada di zaman Pangeran Diponegoro tahun 1800-an. Cerita turun-temurun mbah saya, Pangeran Diponegoro sering transit di sini," ungkap ahli waris kompleks Pasar Klepu, Kuncoro (40), kepada detikcom, Sabtu (23/10/2021).

Kuncoro menceritakan, selain pohon asam jawa itu, ada pohon sambi dan beringin di kompleks pasar yang berada di tanah kakeknya, Demang Wira Kartika

"Dulu mbah saya Demang, Mbah Demang Wira Kartika. Rumahnya itu (menunjuk rumah kuno di utara pasar)," sebut Kuncoro yang merupakan cucu canggah atau generasi ke-4 Demang Wira Kartika.

Pangeran Diponegoro, tutur Kuncoro, sering transit di rumah kakeknya saat perjalanan ke wilayah Kasunanan Surakarta di zaman perang Jawa. Saat singgah itulah kuda Pangeran Diponegoro dan pasukannya ditambatkan di pohon asam, sambi dan beringin.

"Jadi pohon asam itu untuk menambatkan kuda Pangeran Diponegoro dan pengikutnya. Jadinya pasar itu karena warga sini sering menyediakan bahan pokok untuk pasukan di sini, lama-lama jadi pasar," jelasnya.

Pohon asam Jawa raksasa di Pasar Klepu, Desa Klepu, Kecamatan Ceper, Klaten, Sabtu (23/10/2021).Pohon asam Jawa raksasa di Pasar Klepu, Desa Klepu, Kecamatan Ceper, Klaten, Sabtu (23/10/2021). Foto: Achmad Syauqi/detikcom

Pohon itu, lanjut Kuncoro, akan dirawat keturunan Mbah Demang dan tidak akan dijual. Pohon ini meskipun sudah tua tapi disebutnya masih berbuah dan produktif.

"Pohonnya masih berbuah, kadang buahnya jatuh dimanfaatkan warga. Tidak akan dijual karena dirawat turun-temurun," ujarnya.

"Orang sini menyebut Mbah Asam Lanang (pohon yang timur) dan Mbah Asam Wadon (yang barat), tidak ada namanya," pungkas Kuncoro.

Seorang warga setempat, Rohadi (65), mengatakan bahwa pohon asam itu menurut cerita keluarganya secara turun-temurun memang jadi tempat Pangeran Diponegoro menambatkan kuda saat berkunjung ke rumah Demang.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...