Jalani Sidang Perdana, Nani Takjil Sianida Didakwa Pasal Berlapis

- detikNews
Kamis, 16 Sep 2021 12:13 WIB
Sidang perdana kasus Nani takjil sianida di PN Bantul, Kamis (16/9/2021).
Sidang perdana kasus Nani takjil sianida di PN Bantul, Kamis (16/9/2021). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Bantul -

Kasus takjil sianida yang menewaskan seorang bocah di Bantul dengan terdakwa Nani Aprilliani Nurjaman (25) mulai menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Bantul hari ini. Dalam sidang ini, jaksa mendakwa Nani dengan pasal berlapis.

Sidang dipimpin oleh hakim ketua Aminuddin dan dua hakim anggota yakni Sigit Subagyo dan Agus Supriyana. Sedangkan dari dari tim jaksa penuntut umum (JPU) terdiri dari Sulisyadi, Meladissa Arwasari, Nur Hadi Yutama dan Ahmad Ali Fikri.

Selanjutnya untuk ketiga penasihat hukum terdakwa yakni R Ary Widodo, Fajar Mulia dan Wanda Satria. Adapun sidang tersebut berlangsung di ruang sidang I Cakra, Pengadilan Negeri Bantul, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul.

"Pertama pasal 340 KUHP, yang kedua subsider pasal 338, ketiga lebih subsider pasal 353 ayat 3 KUHP, kemudian lebih subsider lagi pasal 351 atau kedua pasal 80 ayat 3 juncto pasal 78 C UU RI No 35 tentang perubahan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak atau ketiga pasal 359 KUHP," ucap Humas PN Bantul Gatot Raharjo kepada wartawan pascasidang, Kamis (16/9/2021).

Sedangkan saat persidangan, tim penasihat hukum Nani mengatakan merasa keberatan dengan dakwaan dari tim JPU. Salah satu tim kuasa hukum Nani Wanda Satria Atmaja menyebut segera mengajukan keberatan tersebut.

"Kami dari kuasa hukum Nani Apriliani Nurjaman melihat dakwaan yang disusun oleh penuntut umum yang merupakan dakwaan kombinasi dan tentunya memiliki konsekuensi hukum tersendiri dalam persoalan ini dan dengan terkait pasal 143 huruf a dan huruf b maka kami, demi kepentingan pembelaan terdakwa Nani Apriliani Nurjaman mengajukan keberatan," ucapnya.

Sementara itu, Hakim Ketua Aminuddin, menyatakan sidang ditunda hingga tanggal 27 September. Dia menjelaskan tanggal itu ditentukan karena dirinya harus mengikuti diklat dari tanggal 20 September.

"Jadi kita tunda hari Senin tanggal 27 September dengan agenda pembacaan nota keberatan dari tim penasehat hukum," katanya.

Ditemui usai persidangan, penasihat hukum Nani, Wanda Satria Atmaja, menjelaskan pihaknya keberatan dengan pengenaan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana kepada kliennya. Pasalnya, apa yang telah direncanakan Nani tidak sesuai dengan kenyataannya.

"Karena saudara Tomi tidak meninggal dunia. Tapi lebih jelasnya nanti dalam persidangan," katanya.

(Pradito Rida Pertana/mbr)