Upaya Kembangkan Desa Wisata Berujung Kecelakaan Maut Tewaskan 6 Warga

Pradito Rida Pertana - detikNews
Sabtu, 04 Sep 2021 19:40 WIB
Bantul -

Kecelakaan tunggal truk di kawasan Tebing Breksi, Prambanan, Sleman, menyisakan kesedihan mendalam bagi warga kampung Daraman, Srimartani, Piyugan, Bantul. 6 korban meninggal adalah warga desa tersebut. 5 orang lainnya kini masih dirawat di rumah sakit.

Dukuh Daraman, Kalurahan Srimartani, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul Syamsul Arifin (30) menjelaskan, warga bergotong-royong membawa batu putih untuk mengembangkan objek wisata Bulak Umpeng yang sudah dibuka sejak tahun 2020. Bulak Umpeng yang menyuguhkan panorama persawahan dan perbukitan bagi pesepeda.

"Untuk pengembangan, di pinggir sawah terdapat kursi yang terbuat dari potongan batu putih. Saat ini jumlah kursi sudah ada 5 buah," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (4/9/2021).

Karena semakin ramai peminat, warga sepakat untuk menambah kursi yang dipesan dari Sambirerjo, Kapanewon Prambanan. "Kebetulan tadi malam ditelepon sudah jadi tempat duduknya dengan total 10 set," katanya.

Selanjutnya, warga berkoordinasi untuk melaksanakan kerja bakti dan mengambil tempat duduk berbahan batu tersebut malam harinya. Alhasil, dari beberapa orang yang hadir 9 warga ikut mengambil kursi pesanan itu, ditambah sopir dan kernet truk.

"Kondisi truk seperti pada umumnya, tidak ada kendala saat berangkat. Tapi saat pulang baru sekitar 2 menit dari lokasi pengambilan batu truk mengalami kecelakaan," ucapnya.

Dengan insiden kecelakaan yang menewaskan 6 warga Pedukuhan Daraman maka Bulak Umpeng tutup untuk sementara. Semua itu untuk menghormati para korban yang meninggal saat mengambil kursi berbahan batu putih.

"Untuk masa berkabung dan menghormati teman-teman yang gugur, maka sementara waktu akan tutup. Untuk kembali buka lagi, kita akan koordinasi dengan warga dan pegiat lainya dan akan evaluasi untuk ke depannya," katanya.

Lurah Srimartani, Mulyana, mengatakan warga yang meninggal tersebut selama ini sangat berperan dalam pengembangan Bulak Umpeng. Bahkan, mereka rela bekerja siang hingga malam untuk pengembangan obwis tersebut.

"Mereka juga memikirkan nasib warga di masa pandemi. Karena itu (6 warga yang jadi korban meninggal) adalah pejuang terkait pengembangan destinasi wisata," ujarnya.

(mbr/mbr)