Beda Pendapat Bupati-Kapolres Pekalongan soal 1 Set Oksigen Rp 6,8 Juta

Robby Bernardi - detikNews
Jumat, 30 Jul 2021 13:47 WIB
Harga satu set tabung oksigen ukuran 1 meter kubik di Pekalongan sempat capai Rp 6,8 juta.
Struk pembelian oksigen di sebuah apotek di Pekalongan, (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Pekalongan -

Cerita warga Pekalongan yang membeli satu set tabung oksigen satu kubik senilai Rp 6,8 juta jadi sorotan di masa pandemi COVID-19 ini. Bupati Pekalongan Fadia Arafiq dan Kapolres Pekalongan AKBP Darno punya pandangan yang berbeda terkait harga satu set oksigen satu kubik itu. Kok bisa?

Bupati Fadia menyebut harga satu set oksigen satu kubik senilai Rp 6,8 juta itu tidak wajar. Pihaknya pun bakal memastikan menindak tegas pedagang nakal yang menetapkan harga di atas harga pasaran.

"Kita sudah ingatkan juga (apotek). Saya minta pada khususnya kepala dinas kesehatan untuk menghimbau semua yang nanti pasang harganya tinggi, yang tidak masuk akal, kita bisa tindak tegas. Harga sebenarnya sudah ada standarnya mengikuti dari pusat," kata Fadia Arafiq ditemui usai peletakan batu pertama pembangunan Gedung Pelayanan Publik Polres Pekalongan, Jumat (30/7/2021).

"Kalau soal COVID dan memanfaatkan situasi COVID ini, kita tindak tegas," tegas Fadia.

Meski begitu, Fadia tidak menjelaskan detail soal tindakan tegas yang bakal diambil untuk menindak pedagang nakal tersebut. Meski begitu, dia berharap dengan adanya berita ini bisa menjadi shock therapy bagi pedagang lainnya untuk menetapkan harga.

"Dengan adanya ini, bahwa mereka pikir tingkat desa tidak ketahuan ya? Berita nasional lo , sampai detikcom. Ini akan membuat yang lain jera," terang Fadia.

Sementara itu, Kapolres Pekalongan AKBP Darno punya pandangan berbeda. Darno menyebut hingga saat ini pemerintah belum menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk oksigen sehingga harga oksigen mahal itu menurutnya wajar.

"Kalau kita melihat dari struk ataupun jumlah nominal yang ada, itu merupakan hal yang wajar. Karena HET (harga eceran tertinggi), tidak diatur itu. Kalau HET-nya diatur baru bisa ketemu itunya (pelanggarannya). HET-nya tidak ada" terang Darno.

Terlebih, kata Darno, melambungnya harga oksigen itu karena banyaknya kasus warga yang melakukan isolasi mandiri di rumah. Sehingga banyak yang membeli alat kesehatan secara mandiri.

"Ini kan karena masyarakat ingin isolasi mandiri di rumah, tentunya kita tidak bisa mengontrol sampai di rumah-rumah," katanya.

"Jadi penyelidikan kita ini sampai dengan distributor yang ada di Pekalongan (pemeriksaan saksi)," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang konsumen di salah satu apotek di Kecamatan Kajen, membeli satu set tabung oksigen dengan harga total Rp 6,8 juta. Dari pihak pemilik apotek sendiri mengakui dirinya menjual harga tertinggi tersebut pada tanggal 19 Juli 2021 lalu.

Pemilik apotek berdalih menjual harga tinggi karena mendapatkan tabung oksigen sudah dalam harga yang tinggi.

(ams/mbr)