Cara Petani Karamba Waduk Gajah Mungkur-Kedung Ombo Akali Krisis Oksigen

Andika Tarmy - detikNews
Senin, 05 Jul 2021 19:43 WIB
Pertanian karamba di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah.
Pertanian karamba di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah (Foto: Andika Tarmy/detikcom)
Wonogiri -

Petani karamba di kawasan Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri, mulai merasakan minimnya pasokan oksigen karena diprioritaskan untuk layanan medis buntut lonjakan kasus COVID-19. Meski begitu, para petani mengaku paham kondisi ini dan mempersiapkan cara lain untuk mengakali kelangkaan oksigen tersebut.

"Sudah sekitar seminggu yang lalu kita kesulitan mencari oksigen. Beberapa teman juga sudah mulai kehabisan pasokan oksigen," ujar Ketua Kelompok Budidaya Ikan 'Nila Kencana', Sugiyanto, saat dihubungi detikcom, Senin (5/7/2021).

Sugiyanto mengatakan, petani membutuhkan pasokan oksigen terutama saat panen. Pasokan oksigen diperlukan untuk menjaga agar ikan tetap hidup usai diangkat dari karamba hingga sampai ke tangan pembeli.

"Biasanya oksigen untuk pengiriman saja. Kalau di kelompok saya, sebulan kita butuh sekitar delapan tabung," kata dia.

Saat ini, lanjut Sugiyanto, petani masih bisa bertahan karena masih memiliki simpanan tabung oksigen. Namun jika kelangkaan ini terus terjadi, pihaknya harus memutar otak untuk mengakali hal ini.

"Kita bisa memahami kelangkaan ini karena memang (oksigen) diperlukan untuk keselamatan banyak orang. Kita kemarin sudah sempat diskusi pihak petani dengan pedagang, kalau pun nanti posisinya benar-benar kita nggak bisa dapat oksigen, nanti pengirimannya dengan beku. Dikasih es," terangnya.

Sugiyanto mengatakan, dengan cara tersebut tersebut kondisi ikan relatif masih segar ketika sampai di tangan pembeli. Hanya diakuinya, petani ikan harus mengeluarkan biaya operasional yang lebih mahal.

"Cuma memang biaya lebih mahal dibandingkan menggunakan oksigen. Ada selisih biaya sekitar RP 25 ribu dibandingkan biasanya," jelasnya.

Kelangkaan yang sama dirasakan petani karamba di Waduk Kedung Ombo (WKO), Kecamatan Sumberlawang, Sragen. Meski begitu, petani tidak merasa khawatir karena penggunaan oksigen petani mereka relatif lebih sedikit.

"Kalau di sini mayoritas sudah diambil oleh para pedagang. Jadi petani belum begitu merasakan imbas kelangkaan ini," jelas Ketua Kelompok Tani Temu Karya Ngargotirgo, Muslim.

Muslim mengatakan, petani ikan di WKO mayoritas hanya memerlukan oksigen untuk membawa ikan dari tengah waduk menuju ke tepi. Setelah itu, ikan akan dibawa oleh pedagang menuju daerah masing-masing.

"Kebutuhannya tidak terlalu banyak. Yang paling terdampak kelangkaan oksigen ini tentu saja pedagang soalnya dia bawa jarak jauh," kata dia.

Meski begitu, pihaknya membenarkan jika pasokan oksigen di daerahnya mulai sulit. Menyikapi hal ini, para petani memiliki cara yang berbeda untuk mengakali kelangkaan oksigen ini.

"Ini di beberapa distributor makin sedikit persediaan oksigennya. Nanti kalau memang sudah tidak ada pasokan oksigen, petani biasanya pakai semacam karamba kecil yang ditarik perahu ke tepi waduk. Sehingga tidak memerlukan oksigen," pungkasnya.

Simak video 'Persiapan Pemerintah Terkait Stok Obat COVID-19 dan Alat Kesehatan':

[Gambas:Video 20detik]



(rih/ams)