Kasus Kematian Corona di Kudus Tembus 440 Sebulan!

Dian Utoro Aji - detikNews
Senin, 21 Jun 2021 12:35 WIB
Suasana Kudus pada hari pertama Di Rumah Saja, Senin (14/6/2021).
Suasana Kudus saat hari pertama 'Di Rumah Saja', Senin (14/6/2021). (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mencatat lonjakan angka kematian kasus positif virus Corona atau COVID-19 mencapai 440 kasus dalam sebulan. Dinkes Kudus menyebut kasus kematian itu tinggi karena mereka belum menerima vaksin.

"Angka kematian kita kurun waktu Mei sampai 15 Juni 2021 ini ada 440 orang, (jumlah itu) 80 persen sama angka kematian setahun April 2020-Mei 2021 angka kematian sekitar 500 sekian," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Badai Ismoyo, kepada wartawan di Pendapa Kabupaten Kudus, Senin (21/6/2021).

Badai menyebut di antara 440 kasus meninggal Corona itu baru 20 orang yang menerima vaksin dosis pertama. Ke-20 orang itu pun juga memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

"Angka kematian tersebut rata-rata itu belum terjangkau vaksin, hanya 20 orang saja terjangkau vaksin tetapi tidak lengkap, dan komorbid. Dua kali dosis belum ada (belum ada laporan meninggal dunia)," jelas Badai.

Badai menyebut vaksinasi bisa menekan kasus kematian akibat virus Corona. Selain itu, peluang warga sembuh usai divaksin COVID-19 lebih besar dibandingkan yang belum menerima vaksin.

"Kita membaca data itu dari 19 Mei sampai dengan 15 Juni kemarin. Kita sampaikan departemen kesehatan bahwasanya ini bisa dijadikan kondisi vaksin itu sangat bermanfaat. Karena kebiasaan dari masyarakat itu wong mari dewe (bisa sembuh sendiri), mari dewe (sembuh sendiri) bisa tanpa divaksin, tetapi kita melihat ditunjukkan sebuah data ini, orang terpapar sudah divaksin kondisinya berbeda," ujar Badai.

Corona Mengganas, Warga Kudus Dinilai Masih Abai Prokes

Badai menyebut pihaknya belum memastikan tingginya kasus kematian COVID-19 di Kudus ini karena varian baru Corona asal India atau delta. Dia memastikan penyebaran meluas karena masyarakatnya abai terhadap protokol kesehatan COVID-19.

"Ya secara umum, karena berkembang varian baru. Varian baru itu dia mempunyai kecepatan penularan sangat masif, kedua punya gejala yang berbeda dengan varian sebelumnya, tetapi juga berhubung daya sebar, dan kondisi masyarakat sedang lemah dalam kondisi protokol kesehatan, itu menjadi sebuah korelasi, sehingga muncul angka kematian yang begitu tinggi," jelas Badai.

"Secara persis belum bisa (karena varian baru), tapi kalau dihubungkan secara logika, faktor koreksinya bisa saja seperti itu. Hipotesa sebuah kondisi itu kan sudah mendekati sebuah penelitian, tergantung kita memahami sebuah data," sambung Badai.

Terpisah, Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Putut Winarno mengatakan ada kenaikan laporan akta kematian di Dukcapil Kudus. Tetapi menurutnya meningkatnya angka kematian bukan karena pandemi virus Corona atau COVID-19.

Angka kematian dari Januari-Juni 2021 ada 4.318 orang. Sementara tahun 2020 selama setahun ada 5.911 orang.

"Angka kematian di Dukcapil itu data pelaporan dari warga bisa meninggal biasa, bisa meninggal kecelakaan, bisa meninggal karena sakit, dan pelaporan mulai Januari-Juni bisa pelaporan tahun-tahun sebelumnya yang belum dilaporkan," kata Putut kepada wartawan ditemui di kantornya siang ini.

"Sehingga tidak serta merta itu menjadi angka kematian pandemi bukan. Makanya besar bukan menjadi angka pandemi bukan, karena angka itu yang dilaporkan," sambung dia.

Simak video 'Transmisi Lokal Covid-19 di Kudus Jadi Perhatian Kemenkes':

[Gambas:Video 20detik]



(ams/sip)