Terpopuler Sepekan

Ironi Guru Anosmia Nekat Ngantor Gegara Takut Tunjangan Dipotong

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Sabtu, 12 Jun 2021 15:20 WIB
SMAN 4 Kota Pekalongan, Kamis (3/6/2021).
Salah satu guru anosmia nekat ngantor di SMAN 4 berujung temuan 37 kasus COVID-19 (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Semarang -

Puluhan guru di SMAN 4 Kota Pekalongan, Jawa Tengah dinyatakan positif virus Corona atau COVID-19. Kasus ini berawal dari seorang guru yang mengalami gejala akut kehilangan indra penciuman atau anosmia tapi nekat berangkat bekerja.

"Berdasarkan hasil epistemologi kasusnya awalnya informasi kepala sekolah, ada guru yang memang pada saat itu ada yang akut bergejala anosmia (hilang penciuman), merasa dia itu anosmia tapi kok masuk," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto kepada wartawan, Kamis (3/6/2021).

Slamet mengungkap Kepala SMAN 4 Kota Pekalongan sempat mempertanyakan keputusan guru itu tetap masuk meski sakit. Ternyata guru tersebut beralasan agar tunjangan pokok pegawainya tak dipotong karena tak masuk kerja.

Gara-gara kasus ini, ada 37 guru di SMAN 4 Kota Pekalongan yang terpapar Corona. Aktivitas sekolah pun ditutup hingga Jumat (11/6) kemarin.

Berkaca dari kasus ini, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta aparatur sipil negara tidak berbuat konyol dalam situasi pandemi COVID-19. Ganjar menyebut jika memang sakit, ASN diminta untuk berkomunikasi dengan atasan.

"Nggak (tidak dipotong), tapi bisa jadi sih (karena khawatir dipotong nekat masuk). Maksud saya itu nggak boleh konyol, bisa komunikasi dengan pimpinan. Gitu itu ada dinas, ada cabang dinas yang bisa disampaikan," kata Ganjar di rumah dinasnya, Selasa (8/5) malam.

Ganjar pun mengaku tak bisa memberikan sanksi kepada guru ASN tersebut. Kecuali ASN itu sengaja melanggar protokol kesehatan atau melanggar aturan tidak berpergian.

"Agak sulit sanksi apa kecuali dia sengaja ya, dia nekat tiap hari tidak pakai masker atau dia nekat kemarin kan ada larangan bepergian kemudian nekat berpergian itu baru kita kenai sanksi. Kalau ini kita tidak tahu ketularannya di mana wong kita tidak pernah tahu kok," terang Ganjar.

Ganjar pun meminta kasus sekolah di Kota Pekalongan ini jadi bahan evaluasi.

"Kejadian di Pekalongan itu membikin kita review ketat terhadap aktor, aktor itu ya kita ini. Kalau aturan instansi sudah ketat, ini ternyata belum jamin. Ternyata mereka sebelum ke kantor selama ini ada yang ke pasar, piknik, kondangan. Ketika di luar kantor tidak bisa dikontrol," urai Ganjar.

"Siapapun maka kita lakukan pengetatan dan evaluasi dari dinas terkait, dinas pendidikan kita minta cek penuh. Kita minta lakukan review, penting kiranya memberikan laporan pergerakan ASN itu selama seminggu kemana saja sehingga bisa kita pakai sebagai acuan kalau terjadi sesuatu bisa lakukan pelacakan dengan cepat," sambung dia.

(alg/ams)