Super Blood Moon Picu Gelombang Laut Tinggi, Nelayan Bantul Pilih Libur Melaut

Pradito Rida Pertana - detikNews
Rabu, 26 Mei 2021 15:41 WIB
Aktivitas nelayan di kawasan pantai Kabupaten Bantul, Rabu (26/5/2021).
Aktivitas nelayan di kawasan pantai Kabupaten Bantul, Rabu (26/5/2021). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul -

Fenomena alam super blood moon yang terjadi hari ini memicu gelombang laut tinggi. Nelayan di kawasan pantai Bantul pilih libur melaut hari ini.

"Hari ini tidak melaut dulu karena informasinya tinggi gelombang akan mencapai 7 sampai 11 meter," kata salah satu nelayan di Pantai Depok, Bantul, Dardi Nugroho, kepada wartawan di Bantul, Rabu (26/5/2021).

Dardi menyebut gelombang laut hari ini mencapai depan warung makan yang berlokasi di pinggir Pantai Depok. Untuk itu, Dardi memilih untuk membenahi peralatan untuk melaut seperti jaring hingga membersihkan kapal.

"Ya terus hari ini digunakan untuk membenahi peralatan aja, sambil istirahat. Karena besok kan sudah mulai melaut lagi," ucapnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Kelautan (DPPK) Kabupaten Bantul Yus Warseno mengatakan, tingginya gelombang laut karena pengaruh fenomena alam super blood moon. Karena itu dia meminta para nelayan mewaspadai gelombang tinggi bahkan jika perlu tidak perlu melaut hari ini.

"Para nelayan Bantul kami imbau agar menyikapi fenomena alam laut dengan berhati-hati dan gelombang laut. Karena itu dapat membahayakan keselamatan nelayan dalam mencari ikan," kata Yus saat dihubungi wartawan.

Diberitakan sebelumnya, fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) atau super blood moon akan terjadi pada Rabu (26/5). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga di pesisir di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk mewaspadai air pasang.

"Kami mengimbau bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di daerah pesisir waspada terhadap kenaikan pasang air laut tersebut," kata Kepala BMKG Yogyakarta Ikhsan Pramudya saat dihubungi wartawan, Senin (24/5).

Ikhsan menjelaskan naiknya air laut itu karena bulan dalam posisi terdekatnya dengan bumi. Naiknya air laut itu terjadi karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi bulan yang lebih besar dari gaya gravitasi bumi.

Kondisi itu juga didukung dengan adanya posisi bulan yang dalam keadaan terdekatnya dengan bumi.

"Akibat gaya gravitasi bulan lebih besar dari gaya gravitasi bumi, akan menarik air laut sehingga air laut menjadi lebih tinggi dari kondisi normal," urainya.

Lebih lanjut, Ikhsan menjelaskan fenomena langka ini dapat disaksikan tanpa harus menggunakan kacamata khusus. BMKG Yogyakarta akan melakukan pemantauan di gedung radar Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta.

"Fenomena gerhana bulan total yang terjadi tanggal 26 Mei 2021 ini aman dilihat langsung oleh masyarakat dengan mata telanjang tanpa harus menggunakan kacamata khusus," terangnya.

Gerhana bulan total atau yang juga disebut Supermoon sebelumnya terjadi pada 27-29 April lalu. Pada tahun sebelumnya, yaitu 2020, tidak terjadi fenomena yang sama.

(rih/rih)