Polisi: Anggota DPRD Sebut Pemakaman Corona Bak Anjing Saat Pengajian

Sayoto Ashwan - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 11:31 WIB
Relawan COVID-19 geruduk kantor DPRD Bantul, Senin (22/2/2021).
Relawan penanganan COVID-19 menggeruduk kantor DPRD Bantul, Senin (22/2/2021). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Kulon Progo -

Polisi turun tangan mendalami pernyataan anggota DPRD Bantul, Supriyono, yang menyebut pemakaman jenazah pasien Corona seperti menguburkan anjing. Terungkap, Supriyono menyampaikan pernyataan yang akhirnya viral itu dalam momen pengajian acara pernikahan.

"Pengajian itu, pas ular-ular (membekali pengantin)," ujar Kapolsek Lendah AKP Fakrurodin saat dihubungi wartawan, Selasa (23/2/2021).

Fakrurodin mengatakan acara pernikahan itu berlangsung Desa Jatirejo, Kecamatan Lendah, Kulon Progo, pada Sabtu (20/2). Usai ijab kabul, acara berlanjut dengan resepsi sederhana yang diisi oleh pengajian yang disampaikan oleh Supriyono.

Hingga akhirnya ada yang merekam momen Supriyono saat memberikan ceramah, berujung viral di media sosial, dan menuai protes dari para relawan pengananan virus Corona.

Diwawancara terpisah, Kassubag Humas Polres Kulon Progo, Iptu I Nengah Jeffry, meminta para relawan untuk bisa menahan diri. Melalui Bhabinkamtibmas, Jeffry mengatakan para relawan diberi pemahaman untuk menjaga kondisi agar tetap kondusif.

"Kami harap jangan terprovokasi dan tetap bisa menunjukkan rasa aman," kata Jeffry.

Diberitakan sebelumnya, video pernyataan Supriyono tersebut viral dan ramai dibahas di media sosial. Salah satunya diunggah oleh akun Twitter @TRCBPBDDIY. Dalam video berdurasi 30 detik itu, Supriyono mengatakan pemakaman protokol COVID-19 seperti mengubur anjing dan sarat proyek.

Berikut ini pernyataan Supriyono:

"Mati lan urip iku kagungane Gusti Allah, ora apa-apa di-COVID-ke, apa-apa di-COVID-19-ke. Bar operasi kanker payudara, penyakit gula mulih di-COVID-ke, njur le mendhem kaya mendhem kirik. Hadhuh, gek iki alam apa? Ha sing dha mendhem seka Dinas Kesehatan entuk proyek njuk sakpenake dhewe."

Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, "Hidup dan mati itu milik Tuhan, tidak kenapa-kenapa di-COVID-kan. Habis operasi kanker payudara, penyakit gula, lalu di-COVID-kan, terus yang menguburkan seperti mengubur anjing. Kondisi macam apa ini? Yang menguburkan itu dari Dinas Kesehatan dapat proyek, terus seenaknya sendiri."

Pemkab Bantul juga sudah angkat bicara soal ucapan Supriyono di atas.

"OPD (organisasi perangkat daerah) itu dalam bekerja, melaksanakan kegiatan itu untuk kepentingan masyarakat. Sehingga tidak ada orientasi mencari popularitas atau keuntungan material (dari pemakaman protokol COVID-19)," kata Sekda Kabupaten Bantul Helmi Jamharis saat dihubungi detikcom, Senin (22/2).

Menyoal Supriyono yang menyebut pemakaman pasien COVID-19 seperti memakamkan anjing, Helmi dengan tegas menampiknya. Menurutnya sudah ada aturan khusus dalam pemakaman protokol COVID-19.

Pria yang saat ini menjabat Plh Bupati Bantul ini juga berpesan kepada Supriyono agar tidak membuat gaduh. Pasalnya anggota DPRD adalah pejabat publik.

"Bahwa sebagai pejabat atau anggota DPRD mestinya bicaranya hati-hati, jangan bikin gaduh," ucap Helmi.

Lihat juga Video: Wagub Riza Tinjau Lahan untuk Pemakaman Covid-19 di Rorotan

[Gambas:Video 20detik]



(sip/mbr)