Sampah Barang Bekas-Kain Belasan Miliar dari Malaysia Disita di Kendal

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Jumat, 05 Feb 2021 12:31 WIB
Jumpa pers sampah barang bekas dan kain ilegal dari Malaysia terbongkar di Kendal, Jumat (5/2/2021).
Penyelundupan sampah barang bekas dan kain ilegal dari Malaysia di Kendal terungkap. (Foto: dok Bea Cukai Jateng-DIY)
Semarang -

Penyelundupan barang bekas dan kain ilegal dari Malaysia terungkap di Kendal, Jawa Tengah. Petugas mengamankan 537 koli ballpress barang bekas dan 5.800 rol tekstil impor ilegal.

"Ada 537 koli ballpress, barang bekas yang dipres. Banyak risiko yang dihadapi dalam importasi ilegal ini karena ini media pembawa penyakit. Ini sampah sebenarnya. Kemudian 5.800 rol kain," ujar Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jateng DIY, Padmoyo Tri Wikanto, kepada wartawan di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jumat (5/2/2021).

Padmoyo mengatakan upaya penyelundupan ini dibongkar Kanwil Bea Cukai Jateng-DIY bersama TNI AL (Lanal Semarang) dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Semarang di Pelabuhan Kendal, Jawa Tengah pada 27 Januari 2021.

Barang-barang tersebut, kata Padmoyo, diangkut oleh KLM. Hikmah Jaya 3 dari Pasir Gudang Malaysia.

"Awalnya kami mendapatkan informasi intelijen tentang adanya kegiatan pembongkaran barang yang berasal dari luar Daerah Pabean, di Pelabuhan Kendal yang bukan merupakan Kawasan Pabean. Tim gabungan segera bergerak ke lokasi bongkar. Di sana telah terjadi proses pembongkaran sebagian muatan barang dari kapal ke 2 (dua) truk," urainya.

Indikasi penyelundupan diketahui karena pengangkutan tak dilengkapi dokumen legal dan juga barang ilegal yang dibawa berusaha ditutup dengan karung bekas.

"Yang rol ini paling bawah ditumpuk ballpress dan ditumpuk karung bekas," imbuhnya.

Dia menyebut, awalnya nahkoda kapal pengangkut barang-barang tersebut tidak mengakui muatannya berasal dari Malaysia. Namun beberapa bukti menunjukkan kapal tersebut bergerak dari Pasir Gudang, Malaysia.

Kapal ini juga memiliki dokumen yang diduga ilegal, seolah-olah menunjukkan bahwa kapal berangkat dari Pelabuhan di Riau.

"Berarti ini tanpa dokumen," ujarnya.

Kasus ini telah sampai pada tahap penyidikan dengan tersangka ROS yang merupakan nahkoda kapal pengangkut barang-barang ilegal di atas. ROS dijerat Pasal 102 huruf b dan/atau Pasal 102 huruf a dan/atau Pasal 102 huruf e UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

"Adapun kerugian negara dari kain/tekstil yang bernilai sekitar Rp 14,6 miliar ini diperkirakan mencapai Rp 4,3 miliar," kata Padmoyo.

Dalam kesempatan yang sama, tersangka ROS mengaku sudah dua kali mengirimkan barang yang sama. ROS merupakan warga Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.

"Sudah dua kali," ujarnya singkat.

(sip/ams)