Angka Kejahatan di Jateng Selama Pandemi Turun: Sing Maling Mikir

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 11:52 WIB
Polda Jateng jumpa pers akhir tahun 2020, Rabu (30/12/2020).
Jumpa pers akhir tahun 2020 Polda Jateng, Rabu (28/12/2020). (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang - Pandemi COVID-19 ternyata memiliki pengaruh terkait penurunan angka kejahatan di Jawa Tengah. Namun ada juga jenis kejahatan yang justru jumlahnya meningkat dibanding tahun 2019.

Kapolda Jawa Tengah, Irjen Ahmad Luthfi, mengatakan dari data kejahatan Polda Jateng tahun 2019-2020 ada penurunan dari 9.615 menjadi 9.060 kasus. Hal itu, kata Luthfi bisa juga mengindikasikan masyarakat yang lebih sering berada di rumah selama pandemi sehingga angka kejahatan akhirnya menurun.

"Kejahatan menurun, penyelesaian juga menurun. Protokol kesehatan dipatuhi masyarakat sehingga niat dan kesempatan (melakukan kejahatan) berkurang. Sing maling mikir (pencurinya mikir-mikir), karena masyarakat banyak di rumah," kata Luthfi kepada wartawan dalam jumpa pers akhir tahun di Mapolda Jateng, Kota Semarang, Rabu (30/12/2020).

Luthfi juga menjelaskan ada tiga jenis kejahatan yang naik yaitu narkoba naik 20 persen dari tahun 2019, pencurian dengan kekerasan naik 20 persen, dan peredaran uang palsu naik 79 persen.

"Uang palsu biasanya terjadi di sekitar Lebaran dan hari besar. Mereka (pelaku) mencari jalan pintas mendapat keuntungan," jelasnya.

Lebih detail untuk kasus narkoba pada tahun 2019 di Jateng naik dari 1.372 kasus menjadi 1.642. Kemudian kasus pencurian dengan kekerasan tahun lalu ada 181 kasus dan tahun ini 217 kasus. Peredaran uang palsu naik dari 14 kasus menjadi 25 kasus.

Luthfi juga menjelaskan soal napi asimilasi di wilayahnya. Ada 5.215 narapidana asimilasi dan yang kembali tertangkap karena melakukan kejahatan yaitu 36 orang.

"Di Polda Jateng mempunyai napi asimilasi 5.215 orang, yang kembali 36 orang atau 0,7 persen karena melakukan tindak pidana lagi," pungkasnya. (sip/mbr)