Rumdin-Hotel Milik Wabup Pati Digeruduk dan Dilempari Batu, Fakta Ini Terungkap

Arif Syaefudin - detikNews
Kamis, 17 Des 2020 13:13 WIB
Olah TKP pengrusakan di hotel milik Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Minggu (13/12/2020)
Olah TKP pengrusakan di hotel milik Wakil Bupati Pati Saiful Arifin (Foto: dok. Polres Pati)
Pati -

Rumah dinas dan hotel milik Wakil Bupati Pati Saiful Arifin digeruduk dan dilempari batu oleh massa. Akibatnya, hotel milik Saiful itu rusak. Apa musababnya?

Peristiwa itu terjadi pada Minggu (13/12) sekitar pukul 00.00 WIB. Massa mulanya menggeruduk rumah dinas Saiful di Jalan Pemuda, Pati, lalu massa bergerak ke Hotel Safin milik Saiful di Jalan Diponegoro, Kelurahan Pati Lor, Kecamatan Pati Kota.

Di hotel berbintang tiga itu, massa mulai merusak sejumlah fasilitas di antaranya tanda keluar-masuk hotel, kaca kanopi, tulisan, dan lampu depan. Peristiwa itu sempat dilaporkan ke polisi.

"Di area depan Hotel Safin sekelompok orang sekitar 50 orang mengendarai kurang lebih 25 sepeda motor, berboncengan sambil berteriak-teriak dengan kata-kata PSG, PSG, PSG haram, dilakukan berulang-ulang," terang Kasat Reskrim Polres Pati AKP Sudarno dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (17/12/2020).

Sudarno menerangkan rombongan lalu berhenti di hotel dan mulai melakukan perusakan. Massa melempari hotel tersebut dengan batu.

"Kemudian rombongan berhenti di depan Hotel Safin langsung melakukan perusakan fasilitas Hotel Safin dengan cara melempar menggunakan batu. Setelah melakukan pelemparan, sekelompok tersebut meninggalkan lokasi melaju ke arah timur," urainya.

Polisi sempat menangkap seorang tersangka berinisial RF alias EP terkait kasus pengrusakan tersebut. Namun, belakangan laporan itu dicabut sehingga tersangka dibebaskan.

Diwawancara terpisah, Wakil Bupati Pati Saiful Arifin menduga aksi perusakan fasilitas hotel miliknya itu terkait pembelian klub Liga 2 Putra Sinar Giri (PSG) Gresik. Saiful menduga aksi itu dilakukan sebagai bentuk luapan emosi para pendukung persatuan sepak bola Pati, Patifosi.

"Tentunya saya prihatin atas insiden yang ada. Ini mungkin karena ketidaktahuan atau terprovokasi bahwa ini adalah sesuatu yang dikira negatif. Ini tidak baik, mestinya dipahami dulu, jangan emosi sesaat saja," kata Saiful saat dihubungi wartawan hari ini.

"Alasan apa menolak kalau saya mengakuisisi PSG di Liga 2 dan membawanya ke Pati. Ini tidak bersentuhan dengan Liga 3. Tidak juga menggunakan APBD. Salahnya di mana?" lanjutnya.

Saiful yakin massa emosi karena terprovokasi. Namun, dia memastikan wacana mendatangkan PSG untuk diakuisisi sebagai klub sepak bola di Pati, demi memajukan prestasi olah raga di Kabupaten Pati.

"Mereka hanya terprovokasi dan butuh bimbingan. Sehingga perlu kami jelaskan seperti ini. Namun, kemudian berkas sudah kami cabut, karena ingin saya, kita semua tetap solid dalam rangka memajukan prestasi olahraga sepak bola di Pati," paparnya.

(ams/sip)