MIT Bantai Warga di Sigi, Pakar UGM Sebut Kegagalan Satgas Tinombala

Pradito Rida Pertana - detikNews
Senin, 30 Nov 2020 16:56 WIB
Selain membunuh satu keluarga di Sigi, kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora juga melakukan pembakaran rumah. Begini kondisi rumah yang dibakar kelompok MIT.
Selain membunuh satu keluarga di Sigi, kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora juga melakukan pembakaran rumah. Foto: ANTARA FOTO/Humas Polres Sigi
Yogyakarta -

Kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso pimpinan Ali Kalora diduga membunuh empat orang yang masih satu keluarga di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng). Pusat Studi Keamanan dan Pertahanan (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai operasi Satgas Tinombala belum berhasil.

"Ada beberapa hal saya kira, satu, saya kira menunjukkan bahwa operasi Tinombala saya kira belum berhasil," kata Kepala PSKP UGM Muhammad Najib Azca saat dihubungi detikcom, Senin (30/11/2020).

Najib menilai operasi Satgas Tinombala tersebut sudah berlangsung lama, bahkan dari tahun 2016. Di mana sebelum operasi tersebut ada operasi Maleo oleh polisi dan muncul operasi Tinombala yang merupakan gabungan TNI-Polri.

"Berarti kan sudah hampir 5 tahun ini. Itu kan tidak berhasil untuk menyelesaikan problem katakanlah kelompok kecil Mujahidin yang bergerilya di atas gunung, jumlahnya kan tidak banyak, hanya belasan itu sejak tahun 2016," ucapnya.

"Itu saya kira proses yang sekian lama menunjukkan tidak berhasil untuk menyelesaikan itu. Padahal saya kira prajurit yang dilibatkan baik TNI Polri cukup banyak dan dana yang dikucurkan juga cukup banyak," imbuh Najib.

Menurut Najib, ketidakberhasilan itu dapat memicu semacam ketidakpercayaan masyarakat atas keseriusan negara, khususnya terhadap TNI dan Polri untuk menyelesaikan masalah khususnya kelompok bersenjata.

"Memang lokasi terbatas meski harus diakui lokasinya sulit, di atas gunung. Tapi kalau ditangani serius sistematis, pakai teknologi terkini saya kira harusnya bisa selesai lebih awal. Tapi nyatanya sampai sekarang tidak selesai," katanya.

"Karena itu saya kira harus disikapi sungguh-sungguh oleh negara dengan bekerja keras. Kalau dibiarkan bisa menunjukkan ketidakberdayaan negara terhadap negara terhadap kelompok kecil yang sudah bertahun-tahun beroperasi," imbuhnya.

Terlepas dari hal tersebut, Najib menyebut ada sisi positif dari kejadian di Sigi. Mengingat dengan turunnya kelompok bersenjata itu menandakan mereka kekurangan logistik untuk bertahan hidup.

"Tapi sekarang saya kira turunnya mereka itu sudah kabar baik kalau mereka kesulitan logistik di atas, support terhadap logistik mereka menipis. Mungkin karena pandemi juga, orang-orang yang biasanya bantu mengalami kesulitan," katanya.

Oleh karena itu, Najib menilai saat ini adalah saat yang pas untuk meringkus kelompok bersenjata tersebut. Mengingat jika dibiarkan terus-menerus dapat menimbulkan konflik horizontal.

"Nah, ini momen yang bagus bagi aparat untuk mengepung mereka bagaimana caranya. Karena mereka sudah turun gunung, dan bisa diidentifikasi posisinya lalu dilakukan penyelesaian total untuk kelompok ini," ujarnya.

Selanjutnya, peristiwa pembunuhan sekeluarga di Sigi...