Cerita Pemotor Harus Nunduk atau Rebahan Lewat Terowongan Aneh di Brebes

Imam Suripto - detikNews
Selasa, 17 Nov 2020 19:56 WIB
Terowongan sempit dan pendek di Brebes
Terowongan sempit di Desa Karangmalang, Ketanggungan, Brebes, viral di media sosial. Foto: Imam Suripto/detikcom
Brebes -

Sebuah terowongan sempit di Desa Karangmalang, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, viral di media sosial. Meski sempit, terowongan setinggi 1 meter itu setiap hari dilalui oleh warga yang akan menuju kota kecamatan.

Pengendara motor yang lewat terowongan itu harus membungkuk atau merebahkan punggungnya ke jok motor. Warga sekitar menyebut terowongan ini dengan nama terowongan Gedong Jimat karena lokasinya tidak jauh dari bekas gudang penyimpanan pusaka (gedong jimat) di RT 3 RW 2, Desa Karangmalang, Ketanggungan.

"Warga sini menyebut terowongan Gedong Jimat. Meski sempit tiap hari dilalui oleh banyak orang termasuk pemotor," kata warga setempat, Sugeng Hargono (53), di lokasi, Selasa (17/11/2020).

Terowongan ini memiliki panjang 5 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi 1 meter. Meski memiliki ukuran sempit, banyak warga yang tiap hari menggunakannya sebagai jalur alternatif menuju kawasan kota, dan pasar. Namun sejak lima hari lalu, intensitas warga yang melewati terowongan itu makin banyak.

Untuk melalui terowongan ini, warga harus membungkukkan badan agar kepala tidak terbentur atap terowongan. Bahkan pemotor ada yang harus rebahan dan mengambil posisi kayang di jok motor ketika masuk terowongan.

Sebuah terowongan sempit di Desa Karangmalang, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, viral di media sosial.Sebuah terowongan sempit di Desa Karangmalang, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, viral di media sosial. Foto: Imam Suripto/detikcom

Pemotor yang kerap melintasi terowongan tersebut, Diki (31), mengaku harus waspada saat masuk terowongan. Terkadang dia harus menuntun motor dengan badan membungkuk.

"Sebenarnya sih ngeri juga melewati terowongan ini, karena kepala sering menyerempet atap. Tapi kalau harus memutar jaraknya jauh karena harus memutar," kata Diki kepada wartawan di lokasi.

Sementara itu, warga lainnya juga mengaku kepalanya sering terbentur atap saat berjalan di dalam terowongan.

"Kalau masuk kadang nggak konsentrasi, kepala membungkuk menghadap tanah. Terus tanpa sadar kita lengah dan kepala tahu-tahu kena atap. Lumayan sakit," kata Yanto (38), warga Buara.

Terpisah, Kapolsek Ketanggungan, AKP Suroto, mengatakan sebenarnya terowongan ini sudah lama dipakai masyarakat lingkungan sekitar Desa Karangmalang. Namun belakangan masyarakat dari desa lain, terutama di selatan Ketanggungan banyak yang melewati terowongan ini.

Alasannya, jalur utama yang menghubungkan pasar dan pusat kota kecamatan tengah dilakukan perbaikan.

"Setelah ada perbaikan di underpass Karangmalang banyak warga masyarakat dari Ketanggungan selatan yang menggunakan jalur ini," jelas Suroto, hari ini.

(rih/ams)