Mengintip Bilik Asmara untuk Pengungsi Gunung Merapi di Magelang

Eko Susanto - detikNews
Selasa, 17 Nov 2020 12:21 WIB
Bilik Asmara di Tempat evakuasi akhir (TEA) Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Selasa (17/11/2020).
Bilik Asmara di Pengungsian Gunung Merapi, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto/detikcom
Kabupaten Magelang -

Tempat Evakuasi Akhir (TEA) Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menyediakan dua bilik asmara bagi pengungsi Gunung Merapi. Seperti apa bilik asmara tersebut?

Berdasarkan pantauan detikcom, Selasa (17/11/2020) siang ini, TEA Deyangan memiliki dua ruang bilik asmara yang masih belum bisa digunakan. Bilik asmara itu berukuran 4x6 meter yang dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi di dalamnya. Tampak di bilik asmara ini belum ada kasurnya.

Selain bilik asmara, tampak ada juga ruang laktasi. Baik bilik asmara maupun ruang laktasi hingga saat ini masih belum digunakan.

Kepala Desa Deyangan Risyanto mengatakan, TEA Deyangan menyediakan dua kamar bilik asmara. Dua kamar bilik asmara ini diperuntukkan bagi pengungsi dari warga Desa Krinjing.

"TEA Deyangan itu menyediakan dua kamar bilik asmara khususnya nanti seandainya warga Krinjing turun ke Deyangan itu, seandainya orangnya masih muda-muda kebutuhan biologis tentunya akan dipenuhi oleh tempat yang kita sediakan jadi resmi. Namun, tentunya harus melihatkan surat nikahnya, jadi suami istri istilahnya di situ tidak boleh sembarangan, makanya nanti ada yang jaga disana di bilik asmara itu," katanya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (17/11/2020).

Bilik Asmara di Tempat evakuasi akhir (TEA) Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Selasa (17/11/2020).Bilik Asmara di Tempat evakuasi akhir (TEA) Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang yang disediakan untuk pengungsi Gunung Merapi, Selasa (17/11/2020). (Foto: Eko Susanto/detikcom)

Risyanto menjelaskan ada sejumlah syarat bagi warga yang ingin menggunakan bilik asmara. Di antaranya mereka harus menunjukkan KTP dan surat nikahnya. Ruangan itu masih belum bisa digunakan karena proses pembangunannya baru saja rampung. Nantinya ruangan itu, kata Risyanto, akan dilengkapi tempat tidur dan kaca di pintunya diberi gorden.

"Ini kasih kesempatan di sana supaya resmi berhubungan dengan istrinya resmi, tidak istilah sembarangan, kita tentukan surat-suratnya apa, kriterianya apa. Nanti KTP, surat nikah harus dibawa kan gitu, kalau nggak kita kecolongan," tuturnya.

Penjelasan BPBD Kabupaten Magelang terkait bilik asmara di pengungsian Gunung Merapi...

Selanjutnya
Halaman
1 2