Seorang Nasabah Bank di Solo Ngaku Kehilangan Duit Tabungan Rp 72 Juta

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Senin, 16 Nov 2020 18:47 WIB
Kuasa hukum Candraning Setyo yang kehilangan uang tabungan Rp 72 juta, Senin (16/11/2020).
Kuasa hukum Candraning Setyo yang kehilangan uang tabungan Rp 72 juta, Senin (16/11/2020). Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo -

Seorang nasabah bank swasta di Solo, Candraning Setyo, mengaku kehilangan uang di tabungannya sebesar Rp 72.653.000. Kasus tersebut telah diadukan ke Polresta Solo.

Salah seorang kuasa hukum korban, Gading Satria Nainggolan, mengatakan kasus yang dialami kliennya ini berawal pada Juni 2020. Saat itu nomor ponsel suami Candra tiba-tiba hilang sinyal. Nomor ponsel itu terhubung dengan internet banking bank tempat Candra menabung.

"Hari itu tiba-tiba ponsel hilang sinyal, tidak bisa telepon, menerima telepon, WA, tidak bisa dipakai sama sekali," kata Gading saat dijumpai di kawasan Jalan Slamet Riyadi, Timuran, Kota Solo, Senin (16/11/2020).

Candra kemudian mengurus masalah tersebut ke gerai provider di Purwosari, Solo. Menurutnya, Candra hanya diberikan kartu baru tanpa dijelaskan permasalahan yang terjadi.

Beberapa hari kemudian, Candra datang ke bank untuk mencetak rekening koran. Dari situlah dia melihat ada transaksi ganjil hingga membuat saldonya terkuras menyisakan Rp 80 ribu.

Diduga selama nomor ponselnya tidak aktif, telah terjadi penerbitan SIM card baru kepada orang tak dikenal. Lalu ada transaksi mencurigakan di rekening Candra.

"Ada lima transaksi aneh pada 11 Juni 2020, pukul 13.24 WIB sampai 13.32 WIB. Ada transfer ke dua rekening bank masing-masing Rp 25 juta, lalu ada tiga top up (ke penyedia layanan keuangan digital) sebesar Rp 9.801.000, Rp 9.901.000 dan Rp 2.951.000," jelas Gading.

Hari itu juga Candra membuat pengaduan ke bank. Namun baru mendapatkan jawaban pada 7 Agustus 2020.

"Intinya transaksi itu dianggap sah karena pelaku bisa memasukkan user name dan password pada aplikasi internet banking dengan tepat," ujarnya.

Padahal, kliennya mengaku tidak pernah menggunakan aplikasi internet banking, meskipun pernah mendaftarkan nomor ponselnya. Sebab rekening banknya tersebut memang difungsikan sebagai tempat penyimpanan, sehingga tidak banyak transaksi yang dilakukan.

"Artinya, klien kami tidak pernah meninggalkan jejak digital terkait data user name dan password-nya. Satu-satunya yang menyimpan data itu adalah pihak bank. Apakah sistem keamanannya lemah, atau ada oknum yang sengaja membobol data perbankan nasabah?" sebut Gading.

Sedangkan kepada pihak provider, dia juga mempertanyakan adanya penerbitan SIM card secara sepihak. Padahal nomor ponsel tersebut adalah nomor pascabayar.

"Ini kan nomor pascabayar, beda dengan prabayar yang bisa dibeli di pinggir jalan. Untuk penerbitan harus tatap muka, pakai KTP, kenapa bisa seperti ini?" katanya.

Namun menurutnya, pihak provider telah mengonfirmasi terkait hilangnya uang tabungan. Mereka menegaskan tidak memiliki hubungan dengan data perbankan nasabah.

"Jadi meskipun punya SIM card baru, pembobol tidak akan bisa mengambil uang tanpa data perbankan," ujar Gading.

Diwawancara terpisah, Kasat Reskrim Polresta Solo, AKP Purbo Adjar Waskito, membenarkan pihaknya telah menerima aduan terkait kasus nasabah bank kehilangan tabungan tersebut. Aduan itu diserahkan pada ke polisi pada Juni 2020.

"Masih dalam proses penyelidikan," kata Purbo singkat saat dihubungi wartawan.

Hingga saat ini, wartawan masih berusaha mendapatkan konfirmasi dari pihak bank dan provider yang disebut kuasa hukum dalam kasus ini.

(rih/sip)