Pandemi COVID-19, Keraton Yogya Sederhanakan Peringatan Maulud Nabi

Pradito Rida Pertana - detikNews
Minggu, 11 Okt 2020 14:15 WIB
pengumuman grebeg mulud keraton yogyakarta 2020
(Foto: Dok. Keraton Yogyakarta)
Yogyakarta -

Keraton Yogyakarta meniadakan rangkaian kegiatan Hajad Dalem Miyos Gangsa, Kondur Gangsa, dan Garebeg Mulud yang sedianya berlangsung sejak 22-29 Oktober. Namun, Keraton akan tetap melakukan penyesuaian prosesi pembagian gunungan secara terbatas.

Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, GKR Condrokirono mengatakan, peniadaan rangkaian tersebut karena pandemi COVID-19 masih terjadi. Terlebih Yogyakarta masih berstatus tanggap darurat.

"Seiring dengan kondisi tanggap darurat COVID-19 DIY sekaligus menaati anjuran dari pemerintah, kami informasikan bahwa rangkaian kegiatan Hajad Dalem Miyos Gangsa, Kondur Gangsa, dan Garebeg Mulud yang sedianya berlangsung sejak tanggal 22 Oktober hingga 29 Oktober Tahun Jimakir 1954/2020 akan ditiadakan," kata GKR Condro melalui keterangan tertulis kepadanya wartawan, Minggu (11/10/2020).

Kendati demikian, kata GKR Condrokirono, pihaknya tetap akan melaksanakan pembagian gunungan. Semua itu untuk tidak mengurangi esensi dan tradisi Garebeg Mulud.

"Meski demikian, keraton akan tetap melakukan penyesuaian prosesi pembagian gunungan secara terbatas tanpa mengurangi esensi dan filosofi Garebeg sebagai bentuk konsistensi pelestarian budaya," ucapnya.

Selain itu, dia berharap agar masyarakat selalu diberi kesehatan dan mampu melewati pandemi COVID-19. Semua itu agar acara tahunan itu dapat terlaksana kembali tahun depan.

"Semoga kesehatan, kekuatan, kesabaran selalu menyertai, serta situasi segera pulih kembali," ujarnya.

Perlu diketahui, Pasar malam di Alun-alun Utara sejatinya ada untuk menyambut Sekaten yang berlangsung tanggal 6-12 Mulud. Sekaten dengan diawali dengan prosesi Miyos Gangsa atau keluarnya Gamelan Sekati, yakni Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga dari keraton.

Gamelan tersebut selanjutnya akan ditempatkan di Pagongan Masjid Gedhe dan ditabuh selama satu minggu. Rentang waktu inilah yang kemudian disebut sebagai Sekaten.

(mbr/mbr)