Semangat Pedagang Lumpia Difabel Asal Klaten Cari Rejeki di Masa Pandemi

Achmad Syauqi - detikNews
Jumat, 21 Agu 2020 18:48 WIB
Pedagang lumpia difabel asal Klaten tetap semangat cari rejeki di masa pandemi COVID-19
Foto: Pedagang lumpia difabel asal Klaten tetap semangat cari rejeki di masa pandemi COVID-19 (Ahmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Tak ada kata menyerah bagi Fery Santoso (40), penjual makanan kecil lumpia duleg (sosis kecil) asal Klaten untuk mendulang rejeki. Pandemi virus Corona atau COVID-19 diakui penyandang disabilitas itu telah memukul usahanya, namun dia tak patah arang.

Saat ditemui detikcom, Fery tampak santai menjawab tiap pertanyaan. Dia bercerita dengan nada penuh semangat. Sesekali dia tampak gesit melayani pembeli dari sepeda motornya.

"Saat ini penjualan memang sulit setelah ada COVID. Bahkan saya sempat libur selama dua bulan tidak jualan," ungkap Fery saat ditemui detikcom berjualan di Jalan Pedan-Juwiring, simpang empat Lapangan Merdeka, Desa Sobayan, Kecamatan Pedan, Jumat (21/8/2020).

Fery yang kehilangan dua kaki akibat kecelakaan itu mengatakan imbas pandemi COVID-19 sangat terasa bagi pedagang kecil seperti dirinya. Dia mengaku sempat setop berjualan selama Maret-April.

"Maret sampai April saya libur total. Saat itu semua kegiatan masyarakat tidak ada sehingga terpaksa di rumah," lanjut Fery.

Untungnya, kata Fery, istrinya di rumah memiliki kerja sampingan sehingga dia dan keempat anaknya bisa bertahan hidup. Setelah libur, dirinya kembali berjualan bulan Mei meskipun omset belum pulih.

"Pendapatan turun drastis saat ini. Dulu sebelum ada COVID bisa habis 1.500 butir lumpia duleg tapi sekarang ini paling 700-800 butir saja tidak habis, kadang sampai malam tetapi kalau Rp 50.000 juga masih dapat," ujar Fery.

Fery menyebut penurunan omsetnya dipengaruhi oleh banyak kegiatan masyarakat yang belum pulih. Misalnya saja Lebaran, Tahun Baru Islam atau Suro, maupun kegiatan sekolah juga sepi.

"COVID sangat terasa dampaknya secara ekonomi. Sebab biasanya Lebaran dan Suro ada pertunjukan ini belum ada, pemudik yang biasa borong juga tidak mudik dan sekolah belum masuk sehingga masih sepi," kata warga Dusun Lemburejo, Desa Gatak, Kecamatan Delanggu itu.

Meski sepi, Fery tak berpangku tangan. Menggunakan sepeda motor matik yang telah dimodifikasi beroda tiga, Fery berkeliling mencari pelanggan ke kampung-kampung.

"Di sini (timur simpang empat Lapangan Pedan) cuma sampai pukul 15.00 WIB. Setelah itu saya keliling ke kampung-kampung cari pembeli," imbuh Fery.

Selanjutnya
Halaman
1 2