'Makam' Kiai Singkil, Nisan yang Berada di Depan Kantor Bupati Demak

Mochamad Saifudin - detikNews
Sabtu, 08 Agu 2020 10:59 WIB
Makam yang berada di area trotoar depan kantor Bupati Demak, Selasa (4/8/2020).
Makam di pinggir jalan depan kantor Bupati Demak, Selasa (4/8/2020). (Foto: Mochamad Saifudin/detikcom)
Demak -

Nisan yang berada di pinggir jalan depan kantor Bupati Demak dipercaya sebagai 'makam' Kiai Singkil. Keberadaan makam itu memiliki dua versi.

"Makam itu sebuah tanda bahwa Syekh Singkil pernah berdomisili di Demak sementara waktu, di dalam rangka mendukung Demak untuk melepaskan diri dari cengkeraman Majapahit," kata Plt Kasi Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Demak, Ahmad Widodo di kantornya, Jumat (7/8/2020).

"Di makam tersebut adalah, tenan opo ora (benar atau tidak), orang-orang yang memiliki spiritual tahu bahwa di situ terdapat pusaka. Kalau ada pusaka, berarti pusaka Syekh Singkil tadi yang ditanam di sana, untuk pangingetan (pengingat) bahwa pernah berada di sana. Berarti pernah ada di daerah Demak," jelas widodo

Widodo menerangkan, makam tersebut memiliki dua versi cerita. Pertama makam tersebut merupakan era Kasultanan Demak. Kedua, sebagai pusaka yang dulunya ditanam pada sebuah tanggul pencegah air masuk ke keraton.

"Dua versi, yang jelas makam (Kiai Singkil) itu era Kasultanan Demak. Sementara versi kedua, legenda dari orang-orang, sebagai tanggul atau bendung, supaya air tidak masuk ke keraton. Sebelahnya (Kali Tuntang) ada gundukan atau tanggul sampai panjang sekali. Pusaka itu untuk dijadikan tanggul, agar air tidak masuk dalam keraton," tutur Widodo.

Tonton juga 'Tentang 3 Makam di Jalanan Gang Jakarta Timur':

[Gambas:Video 20detik]

Widodo menyebut, pertanda makam Kiai Singkil tersebut lebih kepada suatu tanda bahwa Kiai Singkil dari Kerajaan Pasai, Aceh, pernah membantu Demak dalam upaya pembebasan dari kekuasaan Majapahit.

"Versi saya, dari beberapa pendapat dan pengamatan, lebih kepada di mana para ulama dan wali se-nusantara, mendukung kebebasan Demak di bawah tekanan Majapahit, karena Brawijaya pernah melarang penyebaran agama Islam, termasuk para wali se-nusantara," tuturnya.

Demak, lanjutnya, saat itu didukung oleh kerajaan Islam yang sudah menjadi Islam terlebih dulu. Seperti Kerajaan Pasai-Aceh, Sumatra, Jambi. Ia menjelaskan, Kiai Singkil tersebut berasal dari ulama Aceh.

Ia menambahkan, Kiai Singkil dari Kerajaan Aceh menyatu dengan Demak, membantu Demak dalam upaya melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

"Demak didukung oleh kerajaan Islam yang sudah menjadi Islam dulu, seperti kerajaan Pasai-Aceh, terbukti Syekh Singkil datang ke sini," jelasnya.

"Pada zaman dulu tidak makam. Mungkin beliau (Kiai Singkil) berdomisili di situ. Di situlah mereka memberikan suatu tanda, barangkali suatu pusaka sebagai suatu kenang-kenangan," jelasnya yang juga sebagai Kepala Museum Glagah Wangi UPTD Dindikbud Demak.

Selanjutnya
Halaman
1 2