APD Buatan Dosen UNS, Ada Alat Filter Virus di Bagian Kepala

Kartika Bagus - detikNews
Kamis, 16 Jul 2020 20:39 WIB
APD produksi dosen FK UNS Solo, Kamis (16/7/2020).
APD produksi dosen FK UNS Solo, Kamis (16/7/2020). (Foto: Kartika Bagus/detikcom)
Solo -

Seorang dosen di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Darmawan Ismail, membuat alat pelindung diri (APD) memakai bahan anti air dan diklaim tidak bikin gerah petugas yang memakainya. APD tersebut diberi nama Surgeons of UNS (SUNS) Protective Equipment (Proque).

APD ini adalah generasi kedua setelah peluncuran pertama pada Senin (30/3/2020) lalu. APD kali ini diklaim memiliki banyak kelebihannya antara lain pengguna tidak merasa gerah dan juga aman karena saluran pernapasan ada di belakang.

"SUNS Proque ini dilengkapi alat untuk memfilter virus yang diletakkan di bagian belakang," kata Darmawan Ismail di auditorium FK UNS, Kamis (16/7/2020).

Menurut Darmawan yang juga dokter spesialis bedah toraks kardiovaskuler RSUD Dr Moewardi, SUNS Proque dirancang bersama residen bedah. Fungsinya adalah untuk mengatasi masalah droplet dan airborne atau udara yang mengandung material infeksi yang bisa terisap di saluran napas.

Alat filter tersebut berisi spons yang sudah disemprot detergen agar virus yang masuk lewat udara tersaring. Selain itu, terdapat kipas yang dayanya diisi melalui powerbank dan dipasang di sisi belakang kepala. Tujuannya, agar pemakai APD tidak kepanasan dan juga bisa mengurangi embun di dalam pelindung wajah.

"Untuk melindungi wajah, kami sengaja memakai mika, sehingga wajah benar-benar tertutup dan terlindungi. Meski demikian, kami juga memasang lubang kecil yang tertutup di sebelah dada kanan atas. Hal ini untuk memudahkan tenaga medis jika ingin minum atau membersihkan mika depan yang mengembun," jelasnya.

APD produksi dosen FK UNS Solo, Kamis (16/7/2020).APD produksi dosen FK UNS Solo, Kamis (16/7/2020). Foto: Kartika Bagus/detikcom

Dengan bahan dasar anti air, biaya pembuatan satu APD sekitar Rp 1,2 juta. Dalam pemakaian APD dibutuhkan dua orang untuk membantu.

"Kami sudah melakukan uji coba. Baik dengan disemprot air untuk menguji apakah droplet masuk, maupun ketika menangani pasien. Hasilnya semua baik dan dokter bisa menangani pasien tanpa terganggu," ujar dia.

Kelebihan lainnya, lanjutnya, APD dapat dipakai lebih dari satu kali. Sebelum pemakaian kali kedua dan seterusnya, harus dilakukan pengecekan terutama di bagian sambungan menggunakan disinfektan dan dijemur di area tertutup.

Sementara itu, Dekan FK UNS, Reviono menyambut baik pembuatan APD tersebut.

"Kami apresiasi karya dokter pelindung diri, tidak hanya berguna tapi juga nyaman. Karena bagi kami nyaman itu hal yang mahal, bagi kami yang di ruang isolasi membutuhkan hal nyaman. Contoh pasang infus dengan google agak repot karena pandangan terbatas, dengan alat ini kami jadi lebih nyaman," ujarnya.

(rih/mbr)