Massa 'Marhaenis' Gelar Aksi di Yogya, Singgung Sukarno-RUU HIP

Pradito Rida Pertana - detikNews
Senin, 29 Jun 2020 15:21 WIB
Suasana aksi Forum Elemen Nasionalis Marhaenis di Titik Nil Kilometer Yogyakarta, Senin (29/6/2020).
Suasana aksi Forum Elemen Nasionalis Marhaenis di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Senin (29/6/2020). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Yogyakarta -

Sekelompok orang yang menamakan diri Forum Elemen Nasionalis Marhaenis menggelar aksi damai di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Mereka mengusung isu soal Presiden pertama RI Sukarno, Rancangan Undang-Undang (RUU) Halauan Ideologi Pancasila (HIP) hingga Pancasila.

Pantauan detikcom, tampak puluhan orang mengenakan pakaian serba hitam dan merah memenuhi sebelah barat Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta. Beberapa dari mereka juga tampak membawa bendera merah putih dan sebuah keranda.

Anggota Forum Elemen Nasionalis Marhaenis, Adi Lobo mengatakan bahwa aksi damai ini sebagai respons maraknya isu yang menyebut Presiden pertama RI, Sukarno adalah seorang PKI. Menurutnya, hal tersebut adalah ulah kelompok tertentu yang bertujuan merusak nama baik sang proklamator.

"Ini ada sekelompok orang berusaha membelokkan kalau Bung Karno itu PKI. Padahal sudah jelas kalau Bung Karno itu proklamator, Presiden dan beliau itu bukan PKI, karena itu jangan kemudian dibelok-belokkan," kata Adi saat ditemui wartawan di lokasi aksi, Senin (29/6/2020).

Selain itu, saat ini mencuat polemik soal Ekasila dan Trisila dalam RUU HIP. Padahal, Lobo menyebut jika Pancasila merupakan dasar negara yang sifatnya sudah final.

"Maka jangan kemudian kita pelintir-pelintir, kita obok-obok lagi, bahwa (Pancasila) sudah final. Karena itu saya mengimbau teman-teman di DPR marilah belajar dulu sebelum berpendapat," ucapnya.

Suasana aksi Forum Elemen Nasionalis Marhaenis di Titik Nil Kilometer Yogyakarta, Senin (29/6/2020).Suasana aksi Forum Elemen Nasionalis Marhaenis di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Senin (29/6/2020). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Oleh karena itu, dalam aksi kali ini pihaknya mengemukakan 5 pernyataan sikap. Di mana yang pertama adalah bersumpah setia kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan rela berkorban untuk menjaga keutuhan NKRI dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

"Kedua, Bung Karno penggali Pancasila, proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, presiden pertama Republik Indonesia, pemersatu bangsa Indonesia dan Bung Karno Putra Sang Fajar bukan PKI," katanya.

Pernyataan ketiga, kata dia, Trisila dan Ekasila adalah satu kesatuan, satu tarikan napas dalam proses kelahiran Pancasila. Keempat, pihaknya menolak dan menentang keras paham yang anti-Pancasila serta menjunjung tinggi toleransi dan semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, serta tetap mengawal jalannya pemerintahan demi terwujudnya cita-cita bangsa dan tercapainya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

"Kelima, kami mendukung penuh aparat kepolisian untuk bertindak tegas terhadap oknum dan atau kelompok yang jelas terbukti melakukan pelanggaran terhadap hukum yang berlaku di Indonesia," kata Adi.

Tonton video 'Pasal-pasal Krusial RUU HIP yang Picu Kontroversi':

(rih/ams)