PPDB Jateng

Siswa Solo 'Terbuang' ke Luar Kota Gegara Lokasi Sekolahan Tak Nyebar

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Jumat, 26 Jun 2020 17:13 WIB
Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo saat meninjau Bantuan Sosial Tunai (BST) di Kelurahan Mojo, Solo, Kamis (25/6/2020).
Foto: Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo di Kelurahan Mojo, Solo, Kamis (25/6/2020). (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Sistem zonasi di Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Jawa Tengah (Jateng) 2020 di Solo masih memunculkan masalah seperti tahun sebelumnya. Antara lain banyaknya warga Solo yang kesulitan mendapatkan sekolah di dekat rumah.

Misal di Kecamatan Pasar Kliwon, banyak calon siswa yang harus mendaftar ke Kecamatan Mojolaban yang berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo. Hal tersebut kembali membuat Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo protes.

Dia mengaku telah mengusulkan kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo agar warga ditampung dahulu di daerahnya masing-masing. Kecuali sekolah tersebut kekurangan ataupun sisa, maka dapat ke luar daerah.

"Saya dulu sudah usul, SMA Solo tampung dulu warga Solo, kurangannya baru luar Solo. Itu adil. Padahal kita punya sekolah. Saya kan nggak bisa berbuat (membuat kebijakan) kalau SMA," kata Rudy di kawasan Jebres, Jumat (26/6/2020).

Dengan sistem zonasi, hanya calon yang tinggal di dekat sekolah saja yang bisa diterima. Sebagai contoh, seperti terlihat di website PPDB Jateng hari ini, siswa yang masuk seleksi sementara di SMAN 4 memiliki jarak terjauh 0,85 km. Artinya, calon siswa yang rumahnya lebih jauh tidak akan diterima.

Maka Rudy juga mengusulkan agar gubernur membuat kebijakan pemindahan sekolah untuk pemerataan pendidikan. Sebab di Solo ada SMA yang letaknya bersebelahan, seperti SMAN 1 dengan SMAN 2 dan SMAN 5 dengan SMAN 6.

"(Gubernur) sudah saya tawari tanah. Misal SMA 1 dan 2 ini satu kompleks, kan harus dipisah agar merata. SMA 1 atau 2 geser ke Pasar Kliwon, itu baru cakep," ujar dia.

Menurutnya, hal tersebut bukan berarti mengotak-kotakkan wilayah. Dia mengaku hanya menyuarakan keluhan warga Pasar Kliwon yang tidak bisa sekolah di Solo.

"Bukan memetak-metakkan, tapi banyak masyarakat yang protes. Orang Solo tapi nggak bisa sekolah di Solo," tutupnya.

(rih/mbr)