Melihat Tradisi Syawalan Kupat Jembut di Tengah Pandemi Corona

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Minggu, 31 Mei 2020 09:44 WIB
Tradisi Kupat (Ketupat) Jembut di Kota Semarang, Minggu (31/5/2020).
Tradisi Kupat (Ketupat) Jembut di Kota Semarang, Minggu (31/5/2020). (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang -

Pandemi virus Corona (COVID-19) turut berdampak terhadap tradisi saat bulan Syawal di Kota Semarang. Yakni berupa Kupat (Ketupat) Sayur atau yang lebih dikenal dengan Kupat Jembut atau Ketupat Sumpel.

Tradisi itu biasa digelar usai salat Subuh dengan cara membagikan ketupat dengan isian sayur atau taoge kepada anak-anak di kampung. Selain itu anak-anak yang berebut juga diberi uang dari rumah ke rumah.

Di Kampung Jaten Cilik, Pedurungan Tengah, Kota Semarang, biasanya saat tradisi Kupat Jembut anak-anak sudah berkumpul dengan membawa kresek untuk menghampiri warga yang keluar rumah membawa ketupat dan uang.

Namun suasana berbeda terasa, kali ini diisi doa bersama di masjid dan makan bersama oleh beberapa orang. Namun anak-anak tetap datang dan menyalakan kembang api dan petasan.

"Ini ditiadakan, karena situasi Corona. Diganti doa sama makan bersama ketupat sayur opor. Sama menyalakan kembang api," kata salah satu warga Jaten Cilik, Rujito, Minggu (31/5/2020).

Berbeda di RT 1 dan 2 RW 1 Pedurungan Tengah. Tradisi tetap dilakukan namun tidak berebut. Anak-anak yang semuanya memakai masker itu mendatangi satu-satu rumah warga yang sudah siap memberikan ketupat atau uang.

Tonton juga 'Tradisi Berebut Kupat Jembut di Semarang':

[Gambas:Video 20detik]

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2