287 Penerima BST di Klaten Bakal Dicoret, 7 di Antaranya Sudah Meninggal

Achmad Syauqi - detikNews
Kamis, 14 Mei 2020 19:19 WIB
Sebanyak 287 nama penerima bantuan sosial tunai (BST) dari Kemensos di Klaten diusulkan ke pemerintah pusat untuk dicoret
Proses pencairan BST Corona di Klaten hari ketiga berjalan lancar dan menerapkan jaga jarak. (Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Sebanyak 287 nama penerima bantuan sosial tunai (BST) dari Kemensos di Klaten diusulkan ke pemerintah pusat untuk dicoret. Dari jumlah tersebut, tujuh di antaranya sudah meninggal.

"Sesuai data yang kami kirim ke Kemensos, ya ada tujuh yang orangnya sudah meninggal," ungkap Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Pemkab Klaten Much Nasir kepada detikcom, Kamis (14/5/2020).

Menurut Nasir, jumlah total data penerima BST yang salah sasaran ada 339 orang. Data tersebut 287 bersumber dari penerima jalur transfer bank dan 52 dari jalur penyaluran melalui PT Pos.

"Total ada 339 nama. Yang dari bank itu ada 287 nama salah sasaran dan selisihnya dari jalur pencairan melalui PT Pos," jelas Nasir.

Nasir menyebut, meski ada 339 nama yang ditengarai salah sasaran, yang diusulkan dicoret ke Kemensos sementara hanya 287 orang. Sebab, dari jalur pencairan PT Pos belum selesai.

"Yang kami usulkan baru yang dari bank dulu. Yang dari PT Pos kan belum selesai dan belum semua desa melaporkan sehingga jumlahnya bisa berkembang terus," sambung Nasir.

Nasir memerinci ke-287 orang yang diusulkan dicoret itu merupakan laporan dari pemerintah desa. Dari jumlah sebanyak itu, ada yang dinilai mampu, ganda dalam satu keluarga, pindah, masuk BPNT, dan meninggal dunia namun masih terdata sebagai penerima BST Corona.

"Yang meninggal ada dari Manisrenggo, Wonosari, Kemalang, dan lainnya. Ada tujuh jumlahnya," imbuh Nasir.

Laporan tersebut lalu diteruskan ke Kemensos untuk dicoret. Pihak dinas hanya bisa menerima laporan dari desa dan meneruskan ke pusat.

"Dinas hanya menerima laporan dari desa dan meneruskan. Yang berhak meng-cut off tetap pusat," tutur Nasir.