Bupati Banyumas Ikut Gali Makam Pasien Corona yang Viral Ditolak Warga

Arbi Anugrah - detikNews
Rabu, 01 Apr 2020 18:50 WIB
Bupati Banyumas gali makam jenazah pasien Corona yang viral ditolak warga, Rabu (1/4/2020).
Bupati Banyumas gali makam jenazah pasien Corona yang viral ditolak warga, Rabu (1/4/2020). (Foto: Tangkapan layar video/Istimewa)

Seperti dilihat detikcom, Rabu (1/4/2020) pukul 16.39 WIB, akun Instagram @ndorobeii mengunggah tiga video dan satu foto sekitar 3 jam yang lalu.

Turut dituliskan caption:
'Pemakaman 2 Jenazah yang positif corona dimakamkan di pekuncen kab banyumas tanpa seizin warga lalu ditolak warga , info karena bukan warga asli setempat
.
Berita Via whatsapp @neng_chabie25'

Dalam video tersebut, tampak warga berkerumun dengan berteriak dan memukul kentongan mengiringi kedatangan ambulans berpelat merah bernopol H 9507 TG. Ambulans warna putih itu bertuliskan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto.

Terlihat juga Bupati Banyumas Achmad Husein dan polisi memberi penjelasan kepada warga. Video itu telah mendapatkan ratusan komentar dan ribuan like.

Saat dimintai konfirmasi, Kepala Desa Karang Tengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Karyoto membenarkan peristiwa dalam video itu.

Karyoto menjelaskan alasan utama warga menolak pemakaman jenazah pada Selasa (31/3) kemarin itu. Karyoto menyebut warga dibohongi.

"Alasannya penolakan dari warga dibohongi oleh petugas, kemarin Selasa (31/3) siang itu banyak kendaraan pelat merah kliweran (muter-muter) ke sana (lokasi), mencari temu, mencari posisi. Kami sama sekali tidak ada informasi dan pemberitahuan ke pemerintah desa," jelasnya saat dihubungi detikcom, Rabu (1/4/2020).

"Tahu tahu tadi malam itu listrik mati, apakah sengaja dimatikan atau tidak, kami tidak tahu yang jam 7 itu (19.00). Kemudian setelah itu datang dua ambulans dan sekitar enam mobil dinas lainnya," sambungnya.

Kemudian, lanjut Karyoto, warga terkejut setelah mengetahui bahwa itu adalah proses pemakaman jenazah pasien Corona. Warga pun melayangkan protes dan penolakan.

Sedangkan tempat pemakaman itu berada di perbatasan antara Desa Tumiyang dan Desa Karang Tengah. Warga menolak karena lokasi pemakaman jenazah dipilih di lokasi yang dekat permukiman.

"Dekat dengan perkampungan warga kami khususnya yang di RT 4/5, kurang lebih ada 100 meteran. Ini yang menyulut kemarahan masyarakat, imbauan-imbauan dari pemerintah sudah diikuti dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat kami, tapi sebaliknya dari pemerintah juga justru seperti itu," kata Karyoto.

Karyoto menjelaskan setelah warga Desa Tumiyang tahu informasi untuk penguburan jenazah itu, mereka langsung ikut memblokade jalan dan memukuli kentongan.

"Mobil itu tidak boleh keluar. Tuntutan masyarakat harus dipindah makamnya, itu jangan di situ digali," ujarnya.

Hingga akhirnya dilakukan pembongkaran makam pagi tadi. "Tadi dilaksanakan pembongkaran sekitar jam 08.00 WIB. Tadi siang (jenazah) sudah dibawa," ungkapnya.

Halaman

(rih/sip)