Fatwa Muhammadiyah soal Tarawih dan Puasa Ramadhan Jika Corona Belum Reda

Pradito Rida Pertana - detikNews
Rabu, 01 Apr 2020 17:54 WIB
Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Rabu 923/1/2019).
Kantor PP Muhammadiyah. (Foto: dok. detikcom)
Yogyakarta -

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengeluarkan Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 02/EDR/I.0/E/2020 tentang tuntunan ibadah dalam kondisi darurat COVID-19. Dalam edaran itu, petugas medis diperbolehkan tidak berpuasa.

Sekretaris Umum (Sekum) PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan musibah penyebaran wabah COVID-19 yang merebak di berbagai negara, termasuk di Indonesia, merupakan pandemi virus yang mengancam kehidupan manusia. Akibatnya, ratusan ribu orang terinfeksi positif COVID-19 dan ribuan orang meninggal dunia di sejumlah negara, termasuk di Indonesia.

Dengan demikian, kondisi saat ini memasuki fase darurat COVID-19 berskala global. Hal itu merujuk pada pernyataan resmi World Health Organization (WHO) bahwa COVID-19 telah menjadi pandemi dan kriteria kejadian luar biasa (KLB) yang mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia No 451/91.

"Berdasarkan hal tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah merasa perlu untuk menindaklanjuti sekaligus menyempurnakan Surat Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 02/MLM/I.0/H/2020 tentang Wabah Coronavirus Disease (COVID-19) dan Nomor 03/I.0/B/2020 tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Fardu Berjamaah Saat Terjadi Wabah Coronavirus Disease (COVID-19)," ucap Abdul melalui keterangan tertulis, Rabu (1/4/2020).

Lanjutnya, dalam rangka melaksanakan hal itu, sesuai dengan arahan PP Muhammadiyah, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Lembaga Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) telah berkoordinasi dan mengadakan rapat bersama pada Sabtu, 26 Rajab 1441 H, bertepatan dengan 21 Maret 2020 M dan menetapkan beberapa keputusan.

Keputusan itu atas dengan mempertimbangkan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah Al-Maqbulah yang dipahami sesuai dengan manhaj tarjih dan berpedoman pada nilai-nilai dasar ajaran Islam dan prinsip-prinsip yang diturunkan darinya serta data-data ilmiah dari para ahli yang menunjukkan bahwa kondisi ini telah sampai pada status darurat.

"Apabila kondisi mewabahnya COVID-19 hingga Bulan Ramadhan dan Syawal mendatang tidak mengalami penurunan, salat tarawih dilakukan di rumah masing-masing dan takmir tidak perlu mengadakan salat berjemaah di masjid, musala, dan sejenisnya," ujarnya.

Keputusan-keputusan tersebut diambil dengan berpedoman pada beberapa nilai dasar ajaran Islam dan beberapa prinsip yang diturunkan dari padanya. Nilai-nilai dasar dimaksud adalah, pertama, keimanan kepada Allah Yang Mahakuasa dan Mahaadil serta Maharahman dan Rahim bahwa apa pun yang menimpa manusia tidak lepas dari kehendak Allah Yang Mahakuasa (QS Al-Hadid [57]: 22-23). Tetapi semua yang menimpa manusia itu bukanlah karena Allah tidak adil. Sebaliknya Allah itu Mahaadil dan tidak berbuat zalim kepada hamba-Nya (QS. Fushilat [41]: 46).

Selanjutnya
Halaman
1 2 3