Ciu Banyumas Dilirik Jadi Bahan Hand Sanitizer, Ini Desa Produsennya

Arbi Anugrah - detikNews
Jumat, 20 Mar 2020 19:36 WIB
Warga di Banyumas yang produksi ciunya dilirik Bupati Banyumas untuk bahan membuat hand sanitizer, Jumat (20/3/2020).
Warga produsen ciu di Banyumas yang produksinya dilirik Bupati Banyumas untuk bahan membuat hand sanitizer, Jumat (20/3/2020). (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas -

Bupati Banyumas Achmad Husein akan memanfaatkan sumber alkohol lokal yang diproduksi oleh warganya untuk digunakan sebagai hand sanitizer. Rencana Husein itu untuk mengatasi kelangkaan hand sanitizer sebagai antiseptik dalam upaya pencegahan virus Corona.

Husein akan memanfaatkan produksi alkohol dari Desa Wlahar, Desa Cikakak, dan Desa Windunegara, Kecamatan Wangon, Banyumas. Masyarakat di tiga desa itu secara turun-temurun sejak tahun 1942 memproduksi minuman keras tradisional atau yang dikenal dengan sebutan ciu. Setidaknya terdapat 508 kepala keluarga (KK) di tiga desa itu yang memproduksi ciu.

Tempat produksi terbanyak terdapat di Desa Wlahar, ada sekitar 400 KK yang memproduksi ciu sebagai mata pencaharian. Dalam sehari, satu kepala keluarga dapat memproduksi sekitar 15-80 liter ciu. Namun, ciu itu diperdagangkan secara ilegal.

Rencana Pemerintah Kabupaten Banyumas memanfaatkan ciu sebagai hand sanitizer untuk mengatasi virus Corona itu disambut baik oleh masyarakat produsen ciu. Warga berharap langkah bupati itu dapat meningkatkan taraf hidup mereka.

"Kalau beneran ya rasanya senang karena laku (kalau dibeli Bupati Husein). Kalau kayak gini terus kan sepi jadi bingung, yang pastinya siap produksi," kata salah satu produsen ciu di Desa Wlahar, Rempi, saat berbincang dengan wartawan, Jumat (20/3/2020).

Produk ciu bikinan warga Banyumas (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)

Dia menjelaskan untuk membuat ciu, dia bersama suami biasanya harus merendam gula kelapa dengan tape selama 10 hari di dalam gentong. Setelah 10 hari, air yang sudah terfermentasi di dalam gentong-gentong tersebut tersebut kemudian dimasak.

Hasil rebusan air fermentasi itu kemudian disuling hingga keluar tetesan uap alkohol berkadar 20-30 persen.

"Produksi dari pukul 02.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB. Tidak mesti juga, kadang-kadang dapet banyak sampai 80 liter. Kalau musim hujan terus bahannya (gula merah atau gula kelapa) kecampur air, jadi susah," jelasnya.

Dengan empat pawon untuk memproduksi ciu, Rempi bisa menghasilkan sekitar 60-80 liter ciu murni. Tapi dia tidak pernah tahu berapa kadar alkohol dari setiap produksinya. Dia hanya dapat menandai ciu itu baik dan bagus dengan cara dibakar.

"Rata rata per harinya 4 pawon bisa jadi 60-80 liter ciu murni. Nandain kualitas alkoholnya dinyalain pakai api, kalau nyala itu bagus," ucapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3