Siswi SMP Korban Penyiksaan di Purworejo Dititipkan ke Sekolah Lain

Rinto Heksantoro - detikNews
Senin, 24 Feb 2020 10:51 WIB
SMPN 13 Purworejo
SMPN 13 Purworejo (Foto: Rinto Heksantoro/detikcom)
Purworejo -

Setelah absen selama dua pekan semenjak peristiwa perundungan yang menimpanya, akhirnya siswi SMP Purworejo ini mulai masuk sekolah. Namun, korban tak masuk ke sekolah asalnya di Muhammadiyah Butuh, melainkan dititipkan ke sekolah lain.


"Ya hari ini kami menerima siswi yang kemarin jadi korban (perundungan). Sementara diterima di sekolah ini sebagai siswa titipan. Nanti sambil nunggu perkembangan tergantung anaknya kerasan apa tidak, ya semoga saja kerasan dan bisa terus sekolah di sini," kata Kepala SMPN 13 Purworejo, Amir ketika ditemui detikcom di sekolah, Senin (24/2/2020).

Didampingi oleh ibunya, SR (49), korban mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 13 Purworejo hari ini.


Amir melanjutkan, pihaknya dengan senang hati menerima korban untuk belajar di sekolah tersebut. Tak hanya diterima, dia memastikan korban juga diawasi serta diperhatikan oleh pihak sekolah. Untuk mencegah kejadian penganiayaan serupa terulang, pihak sekolah juga menggelar sosialisasi dan bekerjasama dengan kepolisian.

"(Korban) nggak kita bedakan dengan yang lain, kita perlakukan sama. Kami berharap (korban) bisa menyesuaikan diri dengan teman di sini dan sebaliknya teman-teman lain juga bisa menerima dengan sepenuh hati. Kami juga mengawasi perkembangannya dan teman-temannya setiap saat dipantau. Dari kejadian itu kami juga adakan sosialisasi dengan mengundang kepolisian sekalian imbauan," lanjutnya.

Sementara itu, ibu korban merasa senang lantaran anaknya akhirnya bisa pindah dan melanjutkan sekolah dengan aman dan nyaman. Jika korban sudah merasa betah, bahkan ia berencana akan kembali bekerja dan tidak harus menunggui korban terus menerus.

"Tadi langsung ketemu Pak Kepala Sekolah, alhamdulillah semuanya menerima. Anak saya juga rasanya senang dapat sekolah baru temannya banyak. Ini sementara saya antar dulu dan saya tunggui biar aman dan nyaman beradaptasi, ke depannya mungkin cuma saya antar terus saya bablas kerja," ucapnya.


Ibu korban berharap, anaknya bisa segera melupakan kejadian pahit yang menimpanya sehingga bisa terus belajar hingga lulus dan melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi.

"Kalau tahu dulu di sini ada sekolah inklusi ya sudah tak (saya) masukkan sini dari awal. Harapannya ya anak saya bisa melupakan kejadian yang lalu, bisa merasa aman dan nyaman menuntut ilmu seperti teman-teman yang lain," tutupnya.

(mbr/sip)