Cerita Anak tentang Kisah Bu Tumini Buka Warung Mi Ayam

Pradito Rida Pertana - detikNews
Senin, 10 Feb 2020 22:38 WIB
Pemilik Mi Ayam Bu Tumini meninggal dunia pada Jumat (7/2). Terpantau warungnya di Jalan Imogiri Timur, Yogyakarta, masih tutup hingga hari ini.
Warung mi ayam 'Bu Tumini', Kota Yogyakarta, yang masih tutup setelah Bu Tumini (64) meninggal dunia, Senin (10/2/2020). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Gunungkidul -

Kesuksesan warung mi ayam legendaris 'Bu Tumini' di Yogyakarta saat ini ternyata melalui banyak perjuangan. Mulai dari menjadi produsen mi, menyewakan gerobak, cita rasa yang berubah karena suami Tumini meninggal, hingga dalam sehari hanya mampu menjual 30 porsi mi ayam.

Saat ditemui detikcom, anak pertama pemilik warung mi ayam 'Bu Tumini' Sari Rasa Jatiayu, Eko Supriyanto (41), menjelaskan usaha tersebut berawal dari ayahnya, Suparman yang pernah belajar membuat mi dari saudaranya di Cirebon, Jawa Barat. Setelah mahir, ayahnya dan ibunya, Tumini (64), membuka usaha produksi mi di Kotagede, Kota Yogyakarta.

"Dulu tahun 1988-1989 kami cuma bikin mi, dan karena banyak yang menyewakan gerobak, kami ikut menyewakan gerobak. Apalagi saat itu punya kayu yang bisa dimanfaatkan untuk buat gerobak," kata Eko saat ditemui di rumah orang tuanya, Dusun Sawahan 5, Desa Jatiayu, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (10/2/2020).

Akhirnya, Suparman dan Tumini memiliki 5-6 gerobak yang disewakan kepada para penjual mi ayam dengan tarif Rp 500 per harinya. Hal itu sebagai strategi bisnis dalam memasarkan mi buatan Suparman.

"Yang disewakan hanya 5-6 gerobak untuk jualan pengecer mi (ayam) keliling. Karena saat itu kami hanya produksi mi dan mengajari cara masak mi kepada penjual keliling," ucapnya.

Karena telah memiliki cukup modal dari menyewakan gerobak dan berjualan mi, akhirnya Suparman dan Tumini mulai merintis usaha mi ayam pada tahun 1990-an. Eko menyebut, mereka menyewa sebuah tempat di Jalan Imogiri Timur, Kelurahan Giwangan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

"Tahun 90-an kami mulai mencoba jualan di Jalan Imogiri Timur nomor 187 dengan tekstur dan ciri khas mi sendiri, terus jualan mi (ayam) dengan ciri khas sendiri," katanya.

Ciri khas itu, kata Eko adalah mengedepankan kuah kental dengan kombinasi rasa manis dan gurih. Sedangkan untuk mi, merupakan hasil buatan sendiri. Eko menyebut, saat itu harga mi ayam buatan Suparman dan Tumini dibanderol dengan harga Rp 250 per mangkuk.

"Pertama buka itu bisa habis (mi) sekilo, 2 kilo, 3 kilo sampai 5 kilo dalam sehari, kalau porsi jadi 28-30, dan pas Sabtu-Minggu bisa sampai 60 porsi. Ya lumayanlah, yang penting bisa untuk biaya sekolah saat itu," ucapnya.

"Dan dari dulu kuahnya sudah kental seperti itu. Karena ciri khas mi ayam kami itu manis, gurih, dan kuah kental," sambung Eko.

Eko menyebut saat awal-awal itu usaha keluarganya belum sesukses sekarang. Bahkan, ia pernah membantu kedua orang tuanya hingga tengah malam.

"Ya tidak langsung ramai, kami dulu pernah jualan sampai jam 12 malam, tapi hanya sekali itu saja sampai jam 12 malam," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2