Siswi yang Diteror Gegara Tak Berjilbab di Sragen Akhirnya Pindah Sekolah

Andika Tarmy - detikNews
Minggu, 19 Jan 2020 20:44 WIB
Foto: SMA Negeri 1 Gemolong Sragen (Andika Tarmy/detikcom)
Sragen - Siswi SMA Negeri 1 Gemolong Sragen, Z yang diteror karena tak berjilbab, akhirnya pindah sekolah. Berikut ini pernyataan ayah Z, Agung Purnomo tentang keputusan itu.

"Saya pindahkan ke sekolah swasta di Solo," ujar orang tua Z, Agung Purnomo, dihubungi detikcom, Minggu (19/1/2020).

Agung melanjutkan, Z sudah mulai masuk di sekolah barunya sejak Jumat (17/1). Dirinya mengungkapkan, setelah mendapatkan sekolah baru, Z langsung bisa berinteraksi baik dengan teman-teman sekelasnya. Kondisi psikologis Z pun diakuinya berangsur membaik.


"Sudah berangsur-angsur baik, dia sudah merasa di tempat barunya dia menemukan teman-teman yang katanya seru. Kemarin kan sempat stres banget, sempat diare terus berat badannya sampai gering (kurus), turun lima kilogram," lanjutnya.

Agung sendiri merasa lebih tenang usai anaknya pindah sekolah. Menurutnya, masih banyak faktor yang membuatnya memilih untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain. Namun pihaknya tidak bisa mengutarakan hal ini ke publik.

"Banyak hal yang saya nggak kemukakan di luaran, tapi sudah saya sampaikan waktu mediasi dengan bupati kemarin," tambah dia.

Agung menuturkan, langkah yang dilakukannya selama ini semata-mata dalam kapasitas wali murid yang berhak dan berkewajiban mendukung anaknya untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Selain itu, dirinya sebagai warga negara juga merasa harus punya kepedulian dan fungsi kontrol terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak benar.


"Saya sudah sampaikan (waktu mediasi), dan itu sudah bukan kapasitas saya lagi untuk menyelesaikannya. Saya sudah matur (bilang) ke semua pihak yang hadir, ini sudah harus negara yang menyelesaikan," imbuhnya.

Agung meminta insiden teror yang menimpa anaknya menjadi pembelajaran semua pihak. Terutama dirinya menunggu tindakan nyata dari pemerintah, untuk memastikan institusi pendidikan bersih dari intoleransi.

"Di sana (sekolah) itu ratusan orang tua mempercayakan anaknya untuk dididik menjadi generasi-generasi kita yang siap menyongsong masa depan, saya berpikirnya ke arah itu, bukan ke arah individual saya. Biar anak saya jadi martir, yang terpenting ke depannya harus lebih baik. Kalau tidak, harus ada tindakan tegas dari pemerintah. Paling tidak Pancasila itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar," jelasnya. (sip/sip)