Buntut Teror Siswi Tak Berjilbab, SMAN 1 Gemolong Akan Ikrar Pancasila

Andika Tarmy - detikNews
Kamis, 16 Jan 2020 16:41 WIB
Foto: SMA Negeri 1 Gemolong Sragen (Andika Tarmy/detikcom)
Foto: SMA Negeri 1 Gemolong Sragen (Andika Tarmy/detikcom)
Sragen - SMA Negeri 1 Gemolong Sragen akan menggelar ikrar memegang teguh Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan menghargai toleransi. Ikrar ini merupakan buntut dari kasus teror terhadap siswi, Z yang tak berjilbab di sekolah tersebut.

"Karena titik beratnya bukan pada tataran seremonial. Namun bagaimana membangun persamaan persepsi dan komitmen untuk bersama-sama memperbaiki ekosistem. Agar terbangun ekosistem sekolah yang mendukung interaksi siswa untuk saling menghargai, menghormati dan mendorong tumbuhnya toleransi," ujar Kepala Cabang Dinas (KCD) wilayah VI, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Eris Yunianto.

Hal ini disampaikan Eris saat ditanya wartawan soal rencana ikrar Pancasila, usai mengikuti mediasi tertutup di rumah dinas Bupati Sragen, Dusun Kebayanan Krajoyok, Sragen Wetan, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen, Kamis (16/1/2020).


Selain dari Pemprov Jateng, mediasi ini juga dihadiri oleh orang tua Z, sekolah dan segenap jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Kabupaten Sragen.

"Kalau benar dari hati, untuk saling menghargai dan memperbaiki ekosistem sekolah, Insyaallah bisa jalan. Kami selaku pemangku kewenangan tugas kami memantau, memandu bagaimana progresnya," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, ayah Z, Agung Purnomo berharap kejadian ini menjadi momen yang tepat berbenah.


"Saya sendiri berharap pihak sekolah bisa segera berbenah agar kejadian ini tidak terulang," ujar Agung.

Diberitakan sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendapat laporan terkait teror WhatsApp (WA) kepada Z, salah seorang siswi tak berjilbab di SMA Negeri 1 Gemolong Sragen. Ganjar meminta dinas terkait untuk melakukan klarifikasi.

Z mengaku tertekan akibat WhatsApp yang dikirimkan oleh salah seorang siswa pengurus kerohanian Islam (rohis) ini. Berdasarkan keterangan orang tua Z, Agung Purnomo, selain berulang-ulang, pesan singkat ini menjurus intoleran, sehingga membuat Agung akhirnya mendatangi pihak sekolah. (sip/sip)