Viral Ada Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Polisi Turun Tangan

Rinto Heksantoro - detikNews
Senin, 13 Jan 2020 19:41 WIB
Viral di media sosial kemunculan Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Senin (13/1/2020). (Foto: Rinto Heksantoro/detikcom)
Purworejo - Viral di media sosial kemunculan kerajan baru di Purworejo, Jawa Tengah. Kerajaan tersebut menamakan diri Keraton Agung Sejagat (KAS).

Salah satu akun yang mengunggah informasi tersebut adalah akun Twitter @aritsantoso.

"Yang lagi heboh di Purworejo. Ada orang mengaku dari Kerajaan Agung Sejagat yang menguasai seluruh dunia. Mereka buat keraton-keratonan yang lokasinya di Desa Pogung, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

Stres / halu / mau bikin aliran sesat?
Ada-ada saja kelakuan warga 0275," tulis akun @aritsantoso seperti dilihat detikcom, Senin (13/1/2020) petang.

Hingga pukul 18.59 WIB, cuitan tersebut mendapatkan respons 1.893 retweet, 2.017 suka, dan 464 komentar.


Viral Ada Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Polisi Turun TanganViral di media sosial kemunculan Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Senin (13/1/2020). Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

Penelusuran di lapangan, Keraton Agung Sejagat terletak di Desa Pogung Jurutengah, RT 03/RW 01, Kecamatan Bayan. Kerajaan dipimpin pasangan suami istri yakni Totok Santosa Hadiningrat dan Dyah Gitarja.


Saat dimintai konfirmasinya, Kapolres Purworejo AKBP Indra Kurniawan Mangunsong akan mengecek informasi tersebut. Pihaknya berencana memanggil petinggi Keraton Agung Sejagat dan perangkat desa yang nantinya akan dipertemukan dengan Pemda Purworejo.

"Kita nanti akan panggil Totok serta perangkat desa, kita temukan dengan Pemda bagian Penanganan Konflik Sosial (PKS). Nanti kita bahas bersama dengan ahli sejarah Keraton. Jangan sampai nanti terjadi konflik di masyarakat, masyarakat jangan berbuat macam-macam karena masalah yang belum jelas," kata Indra saat dihubungi detikcom.

Hingga saat ini, polisi belum bisa menyimpulkan apakah keberadaan Keraton Agung Sejagat itu melakukan penyimpangan hukum atau tidak.

"Kami juga belum tahu persis, apakah ini hanya nguri-uri budaya, hanya cari sensasi atau gimana. Jadi jangan sampai kita salah langkah, kalau ada masyarakat yang resah ada gangguan ya polisi harus ada," jelasnya.
selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2