Siswi Sragen Diteror Gegara Tak Berjilbab, Disdik Panggil Kepsek

Andika Tarmy - detikNews
Kamis, 09 Jan 2020 21:21 WIB
SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen, Kamis (9/1/2020). (Foto: Andika Tarmy/detikcom)
Sragen - Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah (Jateng) turun tangan terkait kasus teror pada siswi tak berjilbab di SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen. Kepala Cabang Dinas (KCD) wilayah IV Dinas Pendidikan Jateng, Eris Yunianto, akan memanggil pihak sekolah untuk mendalami permasalahan ini.

"Besok (Jumat, 10/1) akan saya kumpulkan kepala sekolah, waka, pembina rohis, guru BK dan beberapa wali kelas. Saya undang semuanya, saya ingin klarifikasi semua hal terkait permasalahan ini," ujar Eris, dihubungi detikcom, Kamis (9/1/2020).

Menurut Eris, pihaknya ingin mendalami akar permasalahan intoleransi ini sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, katanya, telah menginstruksikan melakukan langkah antisipasi soal intoleransi di sekolah.

"Dalam pendalaman ini kan kita tidak gegabah, harus ada penjelasan dari semua unsur yang ada di sekolah," ujarnya.


Eris menyebutkan, pihak sekolah dan orang tua telah duduk satu meja dan sudah ada saling kesepahaman. Kini pihaknya tinggal mengklarifikasi kembali, untuk mencermati ada tidaknya hal yang keliru dalam sistem pembinaan siswa.

"Nanti SOP pembinaan siswa, semuanya tidak hanya rohis, secara komprehensif kita coba dalami lagi khususnya di standard operating procedure (SOP) dalam pembinaan potensi siswa. Nah, dasar itulah yang kita pakai untuk pembenahan," terangnya.

Siswi Sragen Diteror Gegara Tak Berjilbab, Disdik Panggil KepsekAgung Purnomo, orang tua siswi yang diteror anggota rohis karena belum berjilbab. (Foto: Andika Tarmy/detikcom)

Pembinaan nantinya akan difokuskan pada mental karakter siswa, supaya membangun toleransi yang lebih kuat dan tidak lagi memaksakan kehendak. Penguatan karakter ini memerlukan pola pembenahan jangka panjang.

"Ini nanti jadi evaluasi kita. Yang kita benahi yang lemah-lemah untuk mengeliminir potensi intoleransi tadi. Habitnya anak-anak di situ juga harus ada pembinaan lebih lanjut. Bagaimana membangun habit yang lebih kondusif dengan toleransi. Ini tidak bisa seketika," papar Eris.

Sebelumnya, Gubernur Ganjar mengaku mendapat laporan soal adanya siswi yang diteror via WhatsApp karena tak berjilbab. Laporan ini dia ceritakan lewat akun Facebooknya.

"Banyak yg tanya kepd sy soal teror WA ke siswi tak berjilbab di SMA 1 Gemolong Sragen. Dinas P&K Prov bsk pg akan klarifikasi ke sekolah. Mari kita hormati & saling belajar dg baik, tidak memaksa apalagi meneror. Saya akan ajak bicara siswa, guru & ortu," tulis Ganjar melalui akun Facebook pribadinya, seperti dikutip detikcom, Kamis (9/1).
(rih/ams)