Mengenal Etnoastronomi, Ilmu Astronomi Dalam Konteks Budaya

Vattaya Zahra - detikNews
Minggu, 22 Des 2019 22:57 WIB
Museum Sonobudoyo Yogyakarta menggelar pameran temporer etnoastronomi 'Angkasa Ruang dan Waktu, Membaca Langit Menebak Pertanda'. (Foto: Vattaya Zahra/detikcom)
Yogyakarta - Museum Sonobudoyo Yogyakarta menggelar pameran etnoastronomi bertajuk 'Angkasa Ruang dan Waktu, Membaca Langit Menebak Pertanda' di Gedung Pameran Temporer. Etnoastronomi adalah ilmu astronomi yang dijelaskan dalam konteks budaya.

Pameran ini memamerkan koleksi alat dan catatan kuno tentang etnoastronomi di Jawa. Juga memperlihatkan kehebatan nenek moyang dalam mengamati gerak matahari, bulan dan rasi bintang. Pergerakan benda langit kemudian membentuk siklus penanggalan. Siklus tersebut digunakan sebagai alat navigasi dan juga untuk menentukan masa panen.

Salah satu koleksi yang menarik adalah miniatur Kapal Mayang. Nama mayang berasal dari alat penangkap ikan, yaitu 'payang'. Layar perahu biasanya berbentuk trapesium. Jenis perahu tersebut kerap ditemui di pesisir utara pantai Jawa dan Madura.

Pengunjung dimanjakan oleh visualisasi luar angkasa berwarna ungu dan hitam yang menjadi latar miniatur Kapal Mayang. Visualisasi tersebut menggambarkan pergerakan benda langit yang menjadi alat navigasi. Banyak dari pengunjung mengambil foto dengan latar tersebut.

Yuk Lur! Nonton Pameran Etnoastronomi di Museum Sonobudoyo YogyaFoto: Vattaya Zahra/detikcom

"Koleksi di museum harusnya memang seperti itu, agar tidak membosankan," ujar Katrin (21), salah satu pengunjung pameran ini kepada detikcom, Sabtu (21/12/2019).

"Kalau museum tidak memberikan sentuhan visual yang bagus misal, ya akan ngebosenin," lanjutnya.

"Saya juga penasaran sama astrologi Jawa. Biasanya teman-teman saya percaya horoskop atau zodiak, saya pengin tahu kalau menurut budaya Jawa itu bagaimana," tambah Katrin.


Pengunjung lainnya, Prima (30), mengajak anak perempuannya melihat pameran ini.

"Saya pengin anak saya menganggap museum itu menyenangkan, jadi saya ajak," katanya.

Ia mengatakan, museum menjadi salah satu sarana pendidikan yang penting, tetapi kerap dilupakan.

Yuk Lur! Nonton Pameran Etnoastronomi di Museum Sonobudoyo YogyaFoto: Vattaya Zahra/detikcom

Koleksi lainnya yang dipamerkan antara lain adalah serat Pakuwon atau Wuku. Serat Pakuwon dikenal juga sebagai ilmu primbon. Serat ini berisi petunjuk perhitungan waktu untuk meramal nasib seseorang. Juga untuk menafsirkan watak seseorang.


Sebelumnya, pameran ini dibuka secara resmi oleh Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro dan Kepala Dinas Kebudayaan DIY Aris Eko Nugroho pada Selasa (10/12).

Yuk Lur! Nonton Pameran Etnoastronomi di Museum Sonobudoyo YogyaFoto: Vattaya Zahra/detikcom

Pengunjung dapat menikmati koleksi yang dipamerkan secara gratis, mulai pukul 09.00 WIB hingga 21.00 WIB. Pameran yang berlangsung hingga Senin, 10 Februari 2020 ini juga menyuguhkan pembacaan kartu tarot, tur kuratorial, workshop fotografi dan diskusi komunitas pada jadwal yang telah ditentukan.

(rih/rih)