Sejak 2017, 10 Orang Tewas Disengat Tawon Vespa di Klaten

Achmad Syauqi - detikNews
Jumat, 22 Nov 2019 12:40 WIB
Sosialisasi pemberantasan sarang tawon di RSPD Klaten. (Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten - Pemkab Klaten mencatat laporan sarang tawon Vespa Affinis sejak 2016 hingga saat ini sebanyak 667 kasus. Sedangkan sejak 2017 terdapat 10 orang tewas akibat sengatan tawon yang dikenal dengan tawon ndhas itu.

"Sejak 2016 sampai 2019, ada 667 kasus kami tangani. Yang meninggal sampai detik ini 10 orang," jelas Kasatpol PP dan Pemadam Kebakaran Pemkab Klaten Sugeng Haryanto setelah membuka Sosialisasi Penatalaksanaan dan Pemberantasan Tawon di RSPD, Jumat (22/11/2019).

Sugeng menjelaskan kasus tawon ndhas ini muncul pertama kali dengan laporan adanya sarang pada akhir 2016 sebanyak satu laporan. Berlanjut pada 2017, ada 217 kasus dengan seorang korban meninggal.


Berikutnya tahun 2018 ada 207 kasus sarang dengan korban meninggal tujuh orang dan yang dirawat di rumah sakit lebih dari 250 orang.

Sedangkan pada tahun ini, tercatat ada 242 temuan sarang tawon dengan dua orang korban meninggal dunia. Dua orang lainnya dirawat di rumah sakit.

"Sampai malam tadi ada 242 kasus laporan kami tangani. Masih ada 40 laporan lagi yang belum kami tangani," imbuhnya.

Jumlah kasus sebanyak itu, kata Sugeng, belum termasuk laporan yang ditangani oleh relawan. Sugeng menjelaskan ada relawan yang sudah melaporkan penanganannya ke Pemkab Klaten, ada pula yang belum.

Wilayah di Klaten yang sudah memiliki relawan antara lain Kecamatan Cawas, Trucuk, dan Karangdowo. Namun, Sugeng menjelaskan, relawan biasanya akan menangani kasus ringan.

Sedangkan sarang yang sudah berukuran besar dan membahayakan akan ditangani petugas pemadam kebakaran.


Sugeng mengungkapkan kasus temuan sarang tawon ndhas sudah hampir ada di semua wilayah Kabupaten Klaten.

"Seluruh kecamatan di 26 kecamatan sudah ada. Tapi untuk menentukan status (kedaruratan) bukan kami," imbuh Sugeng.

Diwawancarai terpisah, Kapolres Klaten AKBP Wiyono Eko Prasetyo mengatakan sosialisasi penting agar penanganan kasus 'teror' tawon ndhas bisa lebih efektif.

"Jadi penanganan harus komprehensif, bersama-sama, agar tidak terus jatuh korban," kata Wiyono.
Halaman

(sip/sip)