Ruang kelas berukuran 8x10 meter itu kini sama sekali tak beratap. Anak-anak terpaksa belajar di tempat yang sebelumnya digunakan sebagai arena bermain.
Kepala PAUD Harapan Bangsa, Sri Wahyuningsih, mengatakan sekolah tersebut memakai bangunan lama milik kelurahan. Diperkirakan bangunan sudah berusia 40 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atap ambruk pada akhir Januari 2019 lalu. Kebetulan peristiwa terjadi saat hari libur, sehingga tidak ada korban jiwa.
Menggunakan ruang kelas sementara, suasana belajar mengajar menjadi kurang nyaman. Sri menyebut para siswa kerap merasa gerah saat belajar.
"Ini saja mendung rasanya agak panas. Apalagi kalau pas panas, anak-anak merasa gerah. Sekarang jumlah murid berkurang sampai 50 persen," ujarnya.
Sri mengaku pihaknya kesulitan memperbaiki kerusakan itu. Masalah dana menjadi penyebab utama
"Biaya SPP per bulan Rp 47 ribu. Biaya masuk pertama itu Rp 547 ribu, sudah termasuk SPP bulan Juli," kata dia.
Wakil Ketua DPRD Surakarta, Sugeng Riyanto, hari ini meninjau PAUD tersebut. Dia mengaku akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Surakarta.
"Kami akan segera berkoordinasi dengan Pemkot Surakarta agar bisa ikut turun tangan menangani masalah ini. Semoga bangunan bisa diperbaiki dan bisa dipakai seperti semula," pungkasnya.
Halaman 2 dari 2











































