UGM dan 9 Kampus Luar Negeri Gelar Summer Course 2019 di Magelang

UGM dan 9 Kampus Luar Negeri Gelar Summer Course 2019 di Magelang

Eko Susanto - detikNews
Senin, 04 Nov 2019 18:59 WIB
UGM dan 9 Kampus Luar Negeri Gelar Summer Course 2019 di Magelang
Kegiatan Summer Course 2019 di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Senin (4/11/2019). Foto: Eko Susanto/detikcom
Magelang - Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bersama dengan FKG dan Fakultas Farmasi mengadakan kegiatan Summer Course 2019 on Interprofessional Health Care: Emergency and Trauma Care. Kegiatan ini diikuti 61 mahasiswa terdiri 27 mahasiswa UGM dan 34 peserta dari berbagai universitas mitra luar negeri.

Peserta luar negeri berasal dari International Medical University, Vrije Universiteit Amsterdam, Ramathibodi School of Nursing, Mahidol University, Cyberjaya University College of Medical Sciences, University of Medicine Pham Ngoc Thach, Manila Central University, Eberhard Karls University dan Universiti Putra Malaysia.

Summer Course 2019 berlangsung dua pekan, pada pekan pertama peserta mendapatkan pembelajaran di dalam kelas, kemudian pekan kedua mendapatkan pembelajaran kesehatan komunitas lintas disiplin di Kecamatan Ngablak, Pakis, Tegalrejo, Salaman 1, Borobudur, Secang 1 dan Bandongan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kegiatan hari ini di Kecamatan Ngablak, yang dilakukan antara lain penyuluhan di posyandu, memberikan pelatihan cara gosok gigi yang benar kepada siswa SD, pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan cara pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) saat menyemprot sayuran.

Penyuluhan penggunaan APD tersebut dinilai sangat penting karena hampir 90 persen warga Ngablak menjadi petani. Kemudian, hampir 90 persen petani sayuran yang sangat tergantung pada pestisida.

UGM dan 9 Kampus Luar Negeri Gelar Summer Course 2019 di MagelangKegiatan Summer Course 2019 di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Senin (4/11/2019). Foto: Eko Susanto/detikcom

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, Gandes Retno Rahayu, mengatakan setiap tahun FK-KMK mengadakan Summer Course. Untuk kali ini topik yang dipilih trauma dan emergency.

"Mengapa trauma dan emergency care dipilih? ada banyak alasan. Salah satunya adalah di dalam kurikulum mahasiswa itu emergency merupakan salah satu yang ingin kami andalkan sehingga anak-anak mendapatkan paparan dan materi emergency dan trauma yang cukup mendalam," kata Gandes dalam jumpa pers di Puskesmas Ngablak, Kabupaten Magelang, Senin (4/11/2019).


"Summer Course kali ini lebih spesial karena peserta asing lebih banyak. Mereka selama satu pekan ini mendapatkan kuliah secara komprehensif dari pembicara, narasumber dalam dan luar negeri tentang emergency dan trauma dari berbagai aspek. Untuk itu, mereka perlu melihat langsung di lapangan. Tentu saja kasus emergency dan trauma itu spektrumnya luas. Kalau kita melihat emergency mungkin bayangan kita kecelakaan, nggak hanya itu," tuturnya.

"Di sini misalnya kasus-kasus yang kena obat pestisida dan sifatnya mungkin lebih banyak dan itu bisa jadi mahasiswa tidak tahu, kalau tidak terjun. Mereka menginap di sini, belajar di puskesmas untuk melihat bagaimana kasus-kasus trauma dan emergency itu ditangani," lanjutnya.

Panitia Summer Course 2019, Ismail Setyopranoto, mengatakan dalam masalah pestisida ini yang paling penting mengenai pembelajaran kepada masyarakat untuk mengetahui bahaya pestisida, kemudian menghindari paparan itu seminimal mungkin. Adapun upaya meminimalisir paparan dari pestisida yang pertama dengan penyuluhan, terutama bagi para petani di kawasan Ngablak.

"Penyuluhan itu kami laksanakan tahun 2016 pada desa-desa yang memang paling tinggi paparan pestisidanya. Kemudian penyuluhan kedua pada tahun yang sama mengenai penyuluhan cara-cara menghindari paparan pestisida, sekaligus memberikan alat pelindung diri (APD) kepada mereka," ujarnya.

"Yang ketiga, penyuluhan lagi tentang penyakit-penyakit yang berkaitan dengan pestisida. Karena ini penyakit sekaligus pada waktu itu kami menyelenggarakan pengobatan kepada mereka. Kemudian tahun 2017 kami lakukan lagi penyegaran sekaligus untuk menindaklanjuti temuan," katanya.

Ismail menjelaskan, dari temuan tersebut jika ada yang perlu dirujuk menuju rumah sakit baik menuju RSUP Sardjito maupun di Magelang. Kemudian pada tahun 2018, diadakan lagi pengobatan dan tindak lanjut dari penelitian.

"Yang terakhir 2019 ini, kami melakukan pre dan post, pre dulu dan ini post. Bagaimanakah di akhir 4 tahun ini, apakah ada perbaikan, berkurangnya tentang paparan itu maupun efek terhadap kesehatan. Alhamdulillah, memang sudah mulai tampak mereka mulai disiplin menggunakan APD, walaupun ada keluhan. Penyakit yang kami jumpai dan perlu tindak lanjut, kami tindak lanjuti," kata dia.

UGM dan 9 Kampus Luar Negeri Gelar Summer Course 2019 di MagelangKegiatan Summer Course 2019 di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Senin (4/11/2019). Foto: Eko Susanto/detikcom

Menyinggung dampak paparan pestisida, kata dia, yang paling pendek ditemukan dari 3 tahun setelah terpapar hingga paling panjang lebih dari 20 tahun.

"Kami titik tangkapnya di pestisida karena kami tahu sebagaimana disampaikan Pak Camat 90 persen warga sini (Ngablak) adalah petani dan hampir 90 persen petani sayur. Petani sayur sangat tergantung dengan pestisida," katanya.


Adapun yang aman dilakukan petani, katanya, ada empat hal. Pertama, mencegah paparan pestisida dengan cara menggunakan alat pelindung diri. Kedua, ada batas menyemprot yakni tidak boleh berjam-jam.

"Katakan, satu jam harus istirahat dan sebagainya. Kemudian, cara menyimpan, jangan dikira bahwa akibat dari menyimpan di rumah tidak berisiko, sangat berisiko, termasuk cara mencuci. Habis semprotan, coba mencuci di mana, di sungai bahaya, di sumur juga bahaya. Itu juga kami lakukan penjelasan. Yang ketiga, jika ada tanda gejala yang memang itu mengarah ke arah satu intoksikasi, keracunan pestisida harus segera datang ke puskesmas. Harus segera, tidak 'ah nggak apa-apa', jangan," ujarnya.

"Dan terakhir bagi yang sudah terkena jangan sekali-kali bahwa itu mengatakan itu bukan karena pestisida, maka dia secara rutin bahkan kalau perlu intervensi untuk mengurangi gejala yang ditimbulkannya," imbuhnya.
Halaman 2 dari 2
(rih/rih)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads