detikNews
Rabu 23 Oktober 2019, 16:46 WIB

Suhu Udara di Aplikasi Ponsel Beda dengan BMKG, Ini Penjelasannya

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Suhu Udara di Aplikasi Ponsel Beda dengan BMKG, Ini Penjelasannya Suhu udara di Kota Semarang, Selasa (22/10/2019), pecahkan rekor terpanas dalam 37 tahun terakhir. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Aplikasi penunjuk suhu udara di ponsel atau smartphone menghebohkan beberapa daerah di Jawa Tengah. Sekitar pukul 13.00 WIB tadi, suhu yang ditunjukkan aplikasi antara 41 derajat sampai 42 derajat celcius.

Daerah tersebut antara lain Sragen dan Blora dengan suhu berkisar 41 derajat celcius. Hal serupa pernah terjadi beberapa hari yang lalu di Solo, namun BMKG menyebut hasil pantauan mereka suhu memang panas tapi masih 38 derajat celcius.

Hal itu pula yang terjadi hari ini, suhu yang ditunjukkan aplikasi smartphone berbeda dengan pantauan alat yang digunakan BMKG. Perbedaan juga ditunjukkan pada termometer ruangan yang memiliki selisih 2 derajat lebih rendah dari di aplikasi smartphone.


Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Semarang, Iis W Harmoko, mengatakan adanya perbedaan suhu menurut aplikasi dan BMKG. Di Semarang sendiri hari ini terpantau suhu maksimal 39 derajat celcius.

"Suhu Tegal 33-34 derajat celcius, Cilacap 30-31 derajat celcius, Banjarnegara 29-30 derajat celcius, Semarang 37-39 derajat celcius. Untuk Sragen dan Solo raya kami sampaikan data dari Meteo Adi Sumarmo, 36-37 derajat celcius," kata Iis kepada detikcom, Rabu (23/10/2019).

Terkait beberapa kali terjadi perbedaan pengukuran suhu di aplikasi smartphone, Iis menjelaskan basic pengukuran suhu di smartphone menggunakan aplikasi, bukan sensor langsung. Salah satu contoh yang menggunakan sensor langsung yaitu termometer.

"Pengukuran suhu dari smartphone menggunakan aplikasi, bukan sensor langsung. Sementara untuk termometer merupakan sensor juga," jelas Iis.

Sedangkan peralatan BMKG menggunakan alat standar dari World Meteorological Organization (WMO) yang selalu rutin dilakukan kalibrasi agar datanya valid.


"Yang membedakan dengan peralatan BMKG adalah peralatan kami menggunakan alat standar WMO dan alat kami selalu rutin di kalibrasi. Dimana tujuannya untuk menghasilkan data yang akurat dan valid," tegasnya.

Hoax juga sempat beredar terkait akan adanya suhu ekstrem pada 3 hari ke depan. Bahkan dalam hoax tersebut suhu di Papua mendekati 50 derajat celcius.

Kabar tersebut terbantahkan berdasarkan keterangan BMKG Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta yang menyebutkan suhu udara maksimum tanggal 22 dan 23 Oktober 2019 adalah 32 °C. Suhu maksimum selama 5 hari terakhir yaitu antara 31 - 36 °C. Suhu 36°C terjadi pada tanggal 21 Oktober 2019 dan hari berikutnya hingga hari ini tanggal 23 Oktober 2019, tren suhu menunjukkan penurunan.
(alg/rih)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com