detikNews
2019/10/23 15:50:08 WIB

Hebat! Siswa SMK di Bantul Bikin Alarm Deteksi Longsor

Pradito Rida Pertana - detikNews
Halaman 1 dari 1
Hebat! Siswa SMK di Bantul Bikin Alarm Deteksi Longsor Pemasangan alat deteksi longsor di Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - Siswa SMKN 1 Pundong, Bantul membuat alat peringatan dini tanah longsor. Alat tersebut dipasang di salah satu titik rawan longsor di Bantul.

Pantauan detikcom, empat orang siswa SMKN 1 Pundong tampak sibuk memasang sirine longsor di perbukitan RT 02, Dusun Blali, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Rabu (23/10/2019). Alat berbentuk kotak ini terpasang di sebuah tiang besi berwarna biru dengan solar cell, sirine dan pengeras suara pada bagian atasnya.

Selain itu, sekitar 10 meter dari alat tersebut terdapat tiga patok dengan titik berbeda. Di dalam patok tersebut berisi kawat nikelin yang terhubung dengan potensiometer untuk mendeteksi rekahan tanah.

Salah seorang siswa yang terlibat dalam pembuatan sirine longsor, Agus Prakoso (19) mengatakan, bahwa ide pembuatan alat tersebut berasal dari keinginan gurunya yang berhasil membuat alat pendeteksi banjir. Selanjutnya, ia mendapat tawaran dari salah seorang gurunya untuk terlibat dalam pembuatan sirine longsor.

"Saya termotivasi membuat (sirine longsor) karena sebagian wilayah Bantul kan rawan longsor dan dengan alat ini juga bisa mengurangi korban jiwa saat terjadi tanah longsor," ucapnya di sela-sela pemasangan sirine longsor di Dusun Blali.


Siswa kelas 12 jurusan Teknik Audio Video (TAV) SMK N 1 Pundong ini mengungkapkan, tak perlu waktu yang lama untuk membuat sirine longsor. Namun pemasangan alat justru memakan waktu tak sebentar karena memerlukan survei terlebih dahulu.

"Kalau proses pembuatan (sirine longsor) hanya sebulan, dan bisa dibilang tidak sulit karena saya didampingi guru pembimbing. Yang sulit itu hanya penerapannya di lokasi agar alatnya bisa tahan lama," ujar warga Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul ini.

Guru pembimbing, Sumarwan menambahkan bahwa pembuatan sirine longsor merupakan proyek lanjutan dari pembuatan alat pendeteksi banjir. Alat pendeteksi banjir tersebut kini telah terpasang di Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul.

"Sirine longsor ini terdiri dari solar cell sebagai tenaga listrik surya, aki, speaker, lampu peringatan (sirine). Kemudian yang di dalam kotak itu berisi potensiometer, rangkaian untuk sirine, ampli 80 watt dan timer untuk membatasi suara saat terjadi rekahan tanah," ucapnya.

Sumarwan menjelaskan bahwa alat ini masih bekerja secara manual. Potensiometer dihubungkan dengan kawat nikelin yang tertanam di dalam tanah. Kemudian kawat tersebut tersebar di tiga titik yang dianggap rawan longsor.


"Kawat nikelinnya ditanam di bawah tanah dengan kedalaman sekitar 1 meter dan terpasang di 3 titik yang dinilai rawan longsor. Jadi kalau di titik rawan longsor terjadi rekahan (tanah) 25 cm akan menarik kawat niklin dan gulungan potensiometer tadi, lalu alarm akan berbunyi," katanya.

"Seandainya tertarik pada posisi 20-25 cm alarm pertama akan berbunyi selama 8 menit. Jika rekahan bergeser 40-50 cm alarm akan berbunyi lebih keras selama 8 menit lagi," sambung Sumarwan.

Sirine longsor ini memang baru terpasang di Dusun Blali saja.


Sumarwan mengungkap bahwa untuk membuat alat ini membutuhkan waktu 1 bulan dengan biaya Rp 8 juta sampai Rp 10 juta.

Kepala SMKN 1 Pundong, Sutopo menambahkan, Dusun Blali dipilih karena wilayah ini berada di bawah perbukitan dan tebing yang rawan longsor.

"Harapan kami alat ini bisa bermanfaat untuk warga (Dusun) Blali, nanti kalau ada apa-apa terkait alatnya bisa langsung ke Sekolah (SMK N 1 Pundong) dan akan kami setting lagi," ucapnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto menyampaikan apresiasinya terhadap kreativitas dan inovasi yang dilakukan SMK N 1 Pundong.

"Kita coba dipasang di (Dusun) Blali ini karena rawan longsor, harapan ke depannya semoga bisa terus dikembangkan, nanti akan kita terus dorong, dan kita kami siap kerjasama untuk mengembangkan alat seperti ini," ujar Dwi.

Pengembangan alat tersebut perlu dilakukan karena BPBD berencana memasang alat serupa di berbagai titik wilayah rawan longsor di Bantul. Terlebih, Dwi menyebut masih ada 100 titik memerlukan alat deteksi dini.

"Kalau itu (sirine longsor) efektif akan kita kembangkan, karena ada lebih dari 100 titik yang perlu kita pasang. Apalagi biaya pembuatan alat ini terbilang tidak begitu tinggi ya," ucapnya.

Menyoal kelaikan sirine longsor untuk mitigasi bencana, Dwi mengaku masih perlu melihat dampak langsung dari pemasangan alat tersebut.

"Alat ini kan baru proses pemasangan, sehingga nanti kita akan melihatnya dulu, kalau belum terjadi kejadian kan belum bisa kita lihat efeknya. Tapi yang jelas alat ini bisa memberikan informasi kepada masyarakat kalau ada bahaya longsor," katanya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com