detikNews
Rabu 09 Oktober 2019, 14:03 WIB

Harapan Menag Para Ahli Falak MABIMS Sepakati Penanggalan Hijriah

Usman Hadi - detikNews
Harapan Menag Para Ahli Falak MABIMS Sepakati Penanggalan Hijriah Menag Lukman di acara pembukaan pakar falak MABIMS di Sleman. -- Foto: Usman Hadi/detikcom
Yogyakarta - Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, berharap segera muncul konsensus atau kesepakatan bersama di antara para ahli falak berkaitan dengan kalender hijriah. Konsensus itu penting karena berkaitan dengan peribadatan umat Islam.

"Ya mudah-mudahan (muncul kesepakatan), kita lihat prosesnya. Itu lah mengapa tadi dalam sambutan, saya mengajak kita semua khususnya para ahli ilmu falak untuk bisa rendah hati dalam menyikapi keragaman pandangan," kata Lukman, Rabu (9/10/2019).

Hal itu disampaikan Lukman kepada wartawan usai membuka pertemuan pakar falak Majelis Agama Islam Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) bertema 'perkembangan visibilitas hilal dalam perspektif sains dan fikih' di Hotel Grand Keisha, Jalan Affandi No 9 Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lukman menjelaskan, metode penentuan kalender hijriah memang berkaitan erat dengan peribadatan umat Islam. Sebab kalender hijriah menjadi pedoman dalam menentukan awal dan akhir Ramadan, penentuan waktu Idul Adha, Zulhijah dan bulan lainnya.


Dalam menentukan kalender hijriah selama ini masing-masing ahli falak memiliki metodologi sendiri, sehingga hasil perhitungannya berbeda. Oleh karenanya, Lukman berharap di antara ahli falak muncul konsensus berkaitan dengan penanggalan hijriah.

"Jadi harapan saya selaku menteri agama tentu adalah adanya kesepakatan, kesamaan cara pandang, sehingga lalu kemudian bisa terbangun konsensus yang hasilnya itu demi kemaslahatan bersama," harap Menteri dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini.

Dalam kesempatan itu Lukman juga menyinggung perkembangan teknologi dalam penentuan kalender hijriah. Lukman berharap para ahli falak yang berkumpul di Yogyakarta dapat menyamakan cara pandang berkaitan dengan penggunaan teknologi itu.

"Jadi kalau dulu para pendahulu-pendahulu kita melihat hilal itu dengan mata telanjang, tanpa alat. Sekarang ada alat yang bisa dibuat sedemikian rupa, sehingga hilal yang oleh mata telanjang itu tidak terlihat tapi dengan bantuan alat menjadi bisa terlihat," tuturnya.

"Bagaimana fikih-hukum agama itu menyikapi perkembangan teknologi seperti ini? Maka pertemuan kali ini dimaksudkan antara lain untuk menyepakati bersama bagaimana perkembangan alat teknologi ini terkait dengan penetapan hukum-hukum agama," lanjutnya.


Anggota Badan Hisab dan Rukyat Kemenag, Mutoha Arkanuddin, menuturkan pertemuan ahli falak ini dihadiri utusan dari negara yang tergabung dalam perkumpulan MABIMS.

Dalam pertemuan ini Brunai Darussalam, Malaysia dan Singapura masing-masing mengirimkan empat ahli falak. Sementara ahli falak dari Indonesia berjumlah puluhan yang berasal dari kalangan akademisi (kampus), utusan daerah dan lainnya.

"Untuk yang dari masing-masing utusan negara, (ada) empat orang masing-masing. Kemudian dari Indonesia sendiri yang ahli falak lokal dari berbagai daerah, dari kampus-akademisi, dari pakar lembaga, ini kira-kira sekitar 60 orang," pungkas Mutoha.
(ush/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com