Warga Pekalongan Budidaya Belatung Untuk Pakan Alternatif

Robby Bernardi - detikNews
Senin, 02 Sep 2019 20:21 WIB
Foto: Robby Bernardi/detikcom
Foto: Robby Bernardi/detikcom
Pekalongan - Belatung dianggap hewan yang menjijikkan karena sering ditemukan di tempat-tempat kotor. Namun belatung yang satu ini punya nilai ekonomis dan jadi solusi menangani limbah organik.

Agus Nurokhim (41), warga Desa Sragi Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan sejak tahun 2018 lalu membudidayakannya. Ia menjadikan lahan samping rumahnya untuk beternak belatung dan lalat. Belatung atau maggot dan lalat yang dibudidayakan bukanlah lalat hijau yang menjijikan dan belatung yang berbau busuk. Jenis lalat dan maggot yang dibudidayakan yakni jenis lalat black soldier fly (BSF). Lalat BSF ini bentuknya lebih panjang dari lalat biasa. Maggot sendiri biasanya banyak dicari para peternak unggas maupun ikan sebagai campuran pakan.

Agus Nurokhim yang setiap harinya sebagai pengajar di SMKN Sragi menceritakan awal mula dirinya tertarik budidaya maggot.
Warga Pekalongan Budidaya Belatung Untuk Pakan AlternatifFoto: Robby Bernardi/detikcom

"Jadi dulu saya peternak lele. Pakan lele mahal dan harga jual lele anjlok. Selalu saja rugi. Akhirnya saya coba-coba budidaya maggot ini," kata Agus.

Saat melihat kondisi di samping rumah, tidak merasakan bau busuk meski menjadi tempat budidaya belatung atau maggot.

"Desember tahun lalu saya mulai cari-cari soal maggot dan akhirnya saya praktikkan di rumah dan ternyata berhasil," jelasnya.

Menurutnya maggot yang sudah siap dijual berumur 15 sampai 18 hari. Sebelum menjadi bibit atau prepupa.

"Kalau sudah menjadi pupa harganya lebih mahal lagi. Soalnya itu bibitnya untuk menjadi lalat dan kemudian bertelur," tambah Agus.

Untuk satu kilogram maggot (berumur 15-18 hari) dijual dengan harga Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu. Sedangkan maggot yang sudah berwarna hitam atau bibitnya prepupa 1 kg dijual Rp 60 ribu.

"Biasanya pembeli yang datang sendiri. Kebanyakan untuk campuran pakan ternak seperti ayam dan ikan," katanya.

Menurutnya permintaan pasar dalam sehari saat ini mencapai rata-rata 30-40 kg tiap hari.

"Tidak semua kita jual termasuk prepupa. Kita kembangkan lagi menjadi lalat dan sampai bertelur dan kembali menjadi maggot," jelasnya.

Untuk makanan maggot cukup ringan. Agus hanya mengumpulkan sampah-sampah organik baik sampah di rumah-rumah tangga maupun rumah makan.
Warga Pekalongan Budidaya Belatung Untuk Pakan AlternatifFoto: Robby Bernardi/detikcom

"Ada warung makan yang menyetok sampah sehari lima kilo," katanya.

Setiap sore seusai pulang kerja biasnya dibantu dua anaknya yakni Muhamad Agustino Bagas (11) dan Atika Zaralatifa (8) memilih maggot yang sudah menjadi prepupa untuk dikembangkan biakkan kembali.

"Berani tidak jijik. Hanya geli-geli saja. saya suka membantu ayah," jelas Tino.

Sedangkan istri Agus yakni Dyah Praptiningsih yang juga seorang pengajar di SMP tidak merasa keberatan suaminya membudidaya belatung karena tidak berbau.

"Tidak berbau seperti bayangan awalnya," katanya.

Agus menambahkan bibit diletakan di tempat khusus selama 14 hari akan berubah menjadi lalat BSF. Setelah kawin, lalat betina bertelur. Satu induk lalat ini akan mengeluarkan banyak telur yang akan menetas selama 4-5 hari. Setelah itu akan menjadi maggot kecil hingga berumur 15-18 hari siap panen. Sebagian kecil tidak akan dipanen dan dibiarkan menjadi maggot hitam atau prepupa kembali.

"Untuk sampah sisa dari maggot ini bisa dijadikan pupuk organik," ungkap Agus.

Rata-rata, satu kilogram belatung yang dibudidaya dapat dijual dengan harga Rp 10.000 per kilogram. Selain itu, belatung juga memiliki manfaat lainnya seperti pakan ikan, burung, dan ternak. (bgk/bgs)