detikNews
Jumat 30 Agustus 2019, 15:44 WIB

Penjelasan UIN Yogya soal Kontroversi Disertasi 'Hubungan Seksual Nonmarital'

Usman Hadi - detikNews
Penjelasan UIN Yogya soal Kontroversi Disertasi Hubungan Seksual Nonmarital Rektor UIN Sunan Kalijaga, tim promotor dan penguji disertasi Abdul Aziz memberikan penjelasan ke media, Jumat (30/8/2019). -- Foto: Usman Hadi/detikcom
Sleman - Pihak Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta memberikan penjelasan berkaitan dengan disertasi 'konsep milk al-yamin Muhammad Syahrur sebagai keabsahan hubungan seksual nonmarital' yang ditulis mahasiswanya, Abdul Aziz.

Disertasi tersebut menuai kontroversi karena disebut memperbolehkan hubungan seksual nonmarital atau di luar pernikahan dengan batas-batas tertentu. Pihak UIN Yogyakarta akhirnya buka suara untuk meluruskan misinterpretasi yang terjadi.

Promotor disertasi, Khoiruddin Nasution, menjelaskan dalam penelitiannya Abdul mengkaji konsep milk al-yamin yang digagas Muhammad Syahrur. Syahrur ialah warga Syiria yang pernah menetap lama di Rusia, negara yang bebas dalam urusan pernikahan.

Milk al-yamin secara harfiah bisa diartikan 'kepemilikan tangan kanan' atau 'kepemilikan penuh'. Fukaha masa lalu mengartikan milk al-yamin sebagai wewenang pemilik atas jariyah (budak perempuan) untuk mengawininya, namun ia wajib berlaku adil.

Sementara Syahrur memiliki penafsiran berbeda mengenai konsep milk al-yamin. Menurut Syahrur tidak hanya budak yang boleh dikawini, namun juga mereka yang diikat dengan kontak hubungan seksual. Pandangan Syahrur itulah yang dikaji Abdul Aziz.

"Saya berpandangan bahwa penafsiran M Syahrur terhadap ayat-ayat al-Quran tentang milk al-yamin atau yang semisalnya cukup problematik. Problemnya terletak pada subjektivitas penafsir yang berlebihan," ujar promotor lainnya, Sahiron.

Hal itu disampaikan Sahiron dalam konferensi pers yang digelar UIN Yogyakarta menanggapi kontroversi disertasi Abdul Aziz, Jumat (30/8/2019). Hadir dalam acara itu Rektor UIN Yogyakarta, Yudian Wahyudi dan seluruh promotor dan penguji disertasi yang ditulis Abdul.
Sahiron juga mempermasalahkan analogi antara budak dengan orang yang diikat kontrak seperti yang dikemukakan Muhammad Syahrur. Sebab argumentasi Syahrur hanya memandang satu aspek perbudakan yakni seksualitas tanpa melihat aspek lainnya.

"Problem penafsiran Syahrur atas ayat-ayat tentang milk al-yamin terletak pada keengganan memperhatikan makna historis kata tersebut dan maksud atau pesan utama ayat itu (yakni kemanusiaan)," ujarnya.

Sementara penguji disertasi, Agus Najib, mengatakan istilah milk al-yamin sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan budak perempuan, namun juga budak laki-laki yang dimiliki perempuan. Sementara konsep Syahrur hanya fokus pada budak perempuan.

"Sehingga pembahasan yang dilakukan (dalam konsep milk al-yamin ala Syahrur) tidak komprehensif, dan secara konseptual masih dipertanyakan. Apalagi kemudian jika (konsep milk al-yamin ala Syahrur) diterapkan dalam masyarakat," tuturnya.

Rektor UIN Yogyakarta, Yudian Wahyudi, menyebut konsep milk al-yamin ala Syahrur yang dibahas Abdul Aziz tidak mungkin diterapkan di Indonesia apabila tidak mendapatkan legitimasi dari ulama, misalnya dari MUI dan ormas keagamaan lainnya.

"Jika masyarakat menerima maka harus mendapatkan legitimasi dari ijtima. Dalam konteks Indonesia dibuat usulan melalui MUI kemudian dikirim ke DPR agar disahkan menjadi UU. Tanpa proses itu pendapat Syahrur tidak dapat diberlakukan," sebutnya.

Adapun Abdul Aziz mengaku sengaja meneliti konsep milk al-yamin ala Muhammad Syahrur. Sebab ia prihatin dengan maraknya kriminalisasi, stigmatisasi dan pembatasan akses terhadap mereka yang melakukan hubungan seksual nonmarital.

"Harapannya ada pembaharuan hukum Islam. Hukum perdata Islam, hukum pidana Islam, hukum keluarga Islam. Karena saya melihat hukum keluarga Islam baik di Indonesia maupun di beberapa negara yang lain sudah perlu ada pembaharuan," katanya.
Meski demikian, Abdul menegaskan bahwa konsep milk al-yamin ala Muhammad Syahrur ada beberapa batasan. Di antaranya tidak boleh dilakukan dengan berzina menurut pengertian Syahrur, yakni hubungan seksual yang diperlihatkan ke publik.

"Jadi seorang laki-laki boleh berhubungan seksual dengan perempuan lain secara nonmarital sepanjang tidak melanggar batas-batas. Pertama yang disebut zina. Apa itu zina? Zina di sini yang dimaksud adalah hubungan seksual yang dipertontonkan," sebutnya.

"Kalau (berhubungan seksual) di kamar, tertutup, itu bukan zina, itu halal. Kedua perempuan yang sudah bersuami, yang ketiga dilakukan secara homo, dan yang keempat dengan sex party. Kemudian nggak boleh incest. Selain itu semua boleh," tutupnya.
(ush/skm)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com